Jumat, 13 Mei 2011

gambaran pengetahuan keluarga dalam perawatan pasien gangguan jiwa Skizofrenia di URJ Psikiatri

BAB 1

PENDAHULUAN

    1. Latar Belakang

Gangguan jiwa merupakan salah satu dari empat masalah kesehatan utama di Negara maju, modern dan industri keempat masalah kesehatan utama tersebut adalah penyakit degeneratif, kanker, gangguan jiwa, dan kecelakaan. Meskipun gangguan jiwa tersebut tidak dianggap sebagai gangguan yang menyebabkan kematian secara langsung namun beratnya gangguan tersebut dalam arti ketidakmampuan serta identitas secara individu maupun kelompok akan menghambat pembangunan, karena mereka tidak produktif dan tidak efisien (Dadang Hawari, 2001 : ix ).

Gangguan jiwa Skizofrenia tidak terjadi dengan sendirinya begitu saja akan tetapi banyak faktor yang menyebabkan terjadinya gejala Skizofrenia. Berbagai penelitian telah banyak dalam teori biologi dan berfokus pada penyebab Skizofrenia yaitu faktor genetik, faktor neurotomi dan neurokimia atau struktur dan fungsi otak serta imunovirologi atau respon tubuh terhadap perjalanan suatu virus (Sheila L Videbeck, 2008:351).

Tingkat pengetahuan keluarga dalam perawatan merupakan suatu gambaran suatu peran dan fungsi yang dapat dijalankan dalam keluarga, sifat kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu perawatan individu dalam perannya didasari oleh harapan dan pada perilaku keluarga, kelompok dan masyarakat. Berbagai peran yang terdapat dalam keluarga adalah asah, asih, asuh, dan juga beberapa fungsi yang dapat dijalankan keluarga yaitu fungsi biologis, fungsi psikologis, fungsi sosial, fungsi ekonomi, fungsi pendidikan.

Keluarga sebagai unit pelayanan yang merawat adalah keluarga yang ada disekitarnya, kesehatan keluarga diarahkan kepada bagaimana tingkat pengetahuan keluarga dalam pengobatan untuk memelihara kesehatan keluarganya. Berdasarkan pemikiran diatas maka kesehatan diarahkan kepada bagaimana tingkat pengetahuan keluarga dalam pengobatan untuk memelihara kesehatan keluarga. Pemeliharaan kesehatan pada anggota kerluarga ini mempunyai dua prinsip yaitu pemeliharaan kesehatan fisik kesejahteraan psikologis dan emosional, secara relatif penelitian akhir telah menekankan pentingnya hubungan psikologis antara orang tua dan anak apalagi seorang gangguan jiwa Skizofrenia sangat membutuhkan perhatian atau perawatan yang khusus oleh anggota keluarga terutama dalam pemeliharaan pengobatan kesehatan.

Keberhasilan terapi gangguan jiwa Skizofrenia tidak hanya terletak pada terapi obat psikofarmaka dan jenis terapi lainya tetapi juga pengetahuan keluarga dan peran serta pasien dalam pengobatan. ( Dadang Hawari, 2001 : 97 )

Keperawatan jiwa sebagai bagian dari kesehatan jiwa merupakan suatu bidang spesialisasi praktek keperawatan merupakan teori perilaku manusia sebagai ilmunya dan penggunaan diri sendiri secara terapiutik sebagai kiatnya. Perawat jiwa dalam berkerja memberi stimulus konstruktif kepada sistem klien ( Individu, keluarga, kelompok dan komunitas ) dan membantu berespon secara konstruktif sehingga klien belajar cara penyelesaian masalah. Selain mengguanakan terapi modalitas dan komunikasi terapi (Dep. Kes RI, 2001:1)

Di Indonesia, sebanyak 1 – 3 orang dari 1000 penduduk mengalami gangguan jiwa. Dari 1 – 3 penderita tersebut separuh diantaranya berlanjut menjadi gangguan jiwa berat Skizofrenia. Akibatnya jumlah Skizofrenia di Indonesia terutama Jawa Timur mencapai 2 % dari populasi (Pd. Persi, 2008 ). Sementara data dari Dinas Kesehatan .............. pada tahun 2008 ditemukan 480 orang mengalami gangguan jiwa Skizofrenia. Menurut data di URJ Psikiatri RSD.Dr. Soegiri .............., pada bulan Desember 2008 dan Januari 2009 terdapat 32 pasien Skizofrenia. Survey awal yang dilakukan peneliti pada tanggal 9 Februari 2009 tentang pengetahuan keluarga dalam perawatan pasien gangguan jiwa Skizofrenia terdapat 10 keluarga pasien yang periksa didapatkan data 8 atau 80 % keluarga belum mampu memberikan perawatan pada pasien skizofrenia sedangkan 2 atau 20 % sudah mampu memberikan perawatan pada pasien skizofrenia. Dari data diatas timbul masalah yaitu masih ada keluarga belum mampu memberikan perawatan pada pasien skizofrenia. Beberapa faktor yang mempengaruhi keluarga belum mampu memberikan perawatan pada pasien skizofrenia yaitu faktor pendidikan, pengetahuan, informasi, sosial ekonomi, dan peran perawat.

Pendidikan adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku ( Soekidjo Notoatmodjo, 2003 : 16 ) makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi, sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Keluarga harus mempunyai pendidikan yang tinggi karena dengan pendidikan akan mengetahui bagaimana mengatasi perawatan pasien gangguan jiwa Skizofrenia dengan tepat dan benar. sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat sikap seseorang terhadap nilai baru yang diperkenalkan.

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu dan penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni indera pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba ( Soekidjo Notoatmodjo, 2003 : 121 ). Pengetahuan keluarga tentang perawatan sangat penting karena keluarga mempunyai pengetahuan yang luas akan mudah memperoleh informasi untuk pasien gangguan jiwa Skizofrenia dalam perawatan. Makin tinggi pengetahuan seseorang makin mudah menerima informasi, sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki sebaliknya pendidikan yang rendah akan menghambat sikap seseorang terhadap nilai baru yang diperkenalkan.

Informasi adalah pengetahuan yang didapatkan dari pembelajaran, pengalaman, atau instruksi ( Wikipedia, 2008 ). informasi merupakan hal yang sangat penting karena dengan informasi adekuat maka pesan yang di sampaikan akan dilakukan dengan benar dan dapat memotivasi keluarga dalam perawatan pasien gangguan jiwa Skizofrenia. Keluarga harus banyak mencari informasi adekuat untuk perawatan pasien gangguan jiwa Skizofrenia dengan banyak informasi akan memudahkan dan memotivasi keluarga dalam perawatan, sebaliknya informasi yang kurang akan menghambat keluarga dalam perawatan.

Sosial Ekonomi merupakan aturan yang berlaku untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam suatu rumah tangga. Misalnya, pendapatan jauh lebih rendah dari pengeluaran terlibat hutang, kebangkrutan usaha, soal warisan dan lain sebagainya. Kesemuanya itu dapat menjadi sumber stress pada diri seseorang yang bilamana tidak dapat ditanggulangi yang bersangkutan dapat jatuh sakit (Dadang Hawari, 2001:33). Keluarga dengan sosial ekonomi yang rendah akan mempertimbangkan terlebih dahulu segala sesuatunya sebelum melaksanakan mereka akan mementingkan kebutuhan pokok daripada untuk perawatan keluarga gangguan jiwa Skizofrenia, sedangkan keluarga dengan ekonomi tinggi mempunyai kelebihan penghasilan yang dapat digunakan untuk perawatan anggota keluarga gangguan jiwa Skizofrenia.

Peran Perawat atau petugas kesehatan sebagai edukator, peran ini dilaksanakan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, sehingga terjadi perubahan tingkah laku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan (Wahit Iqbal Mubarok, 2005; 76). Peran Tenaga Kesehatan ditujukan dalam rangka memberi bantuan dalam memecahkan permasalahan yang terkait manifestasi dan perawatan pasien skizofrenia, tugas dari tenaga kesehatan bukan hanya memberikan bantuan agar keluarga bebas dari masalah kesehatan pasien skizofrenia, akan tetapi memberikan petunjuk serta bagaimana keluarga menjaga kesehatan.

Kesembuhan pasien gangguan jiwa Skizofrenia relatif lama karena merupakan penyakit kronis, perawatan klien di rumah mungkin jauh lebih baik oleh karena itu pengetahuan keluarga dalam pengobatan pasien gangguan jiwa Skizofrenia sangat penting untuk mendukung kesembuhan. Terapi gangguan jiwa Skizofrenia harus saling terkait antara pasien dengan Dokter psikiatri, perawat, keluarga, maupun masyarakat. Para petugas kesehatan atau perawat harus memberikan penyuluhan yang optimal kepada keluarga tentang cara perawatan pasien Skizofrenia sehingga keluarga dapat mengerti dan memahami bagaimana perawatan pasien Skizofrenia.

Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan penelitian ini difokuskan kepada salah satu penyebab yang mempengaruhi pada pengobatan pasien gangguan jiwa Skizofrenia yaitu pengetahuan keluarga pasien gangguan jiwa Skizofrenia dalam perawatan.

    1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, didapatkan rumusan masalah, yaitu : “Bagaimana gambaran pengetahuan keluarga dalam perawatan pasien gangguan jiwa Skizofrenia di URJ Psikiatri RSD Dr. Soegiri ..............?”

    1. Tujuan Penelitian

Mengidentifikasi pengetahuan keluarga dalam perawatan pasien Skizofrenia di URJ Psikiatri RSD Dr. Soegiri ...............

    1. Manfaat Penelitian

      1. Praktis

1). Bagi peneliti

Sebagai bahan dasar untuk mengetahui gambaran pengetahuan keluarga dalam perawatan pasien skizofrenia di URJ Psikiatri RSD Dr. Soegiri ...............




1.4.2 Akademik

1). Bagi Profesi Keperawatan

Diharapkan penelitian ini memberikan masukan bagi profesi dalam mengembangkan perencanaan perawatan yang akan dilakukan tentang perawatan pasien skizofrenia

2). Bagi Peneliti yang Akan Datang

Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan kesehatan, khususnya bagi ilmu keperawatan serta dapat digunakan acuan untuk peneliti yang akan datang

3). Bagi Petugas Kesehatan

Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat dan masukan bagi profesi keperawatan dalam mengembangkan perencanaan yang akan dilakukan tentang pengetahuan keluarga dalam perawatan pasien gangguan jiwa skizofrenia.

4). Bagi Institusi Pendidikan

Bagi institusi pendidikan hasil penelitian dapat digunakan sebagai masukan bagi institusi dan hasilnya dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya.

gambaran pengetahuan keluarga pasien skizofrenia tentang penyakit skizofrenia di URJ Psikiatri

BAB 1

PENDAHULUAN


  1. Latar Belakang

Skizofrenia salah satu bentuk gangguan jiwa berat, dulu sering dianggap akibat kerasukan roh halus atau ilmu gaib. Akibatnya, pasien sering dikucilkan bahkan dipasung dan diperlakukan tidak manusiawi. Skizofrenia bisa mengenai siapa saja, dari berbagai bangsa, negara, maupun kelompok sosio ekonomi dan budaya. Skizofrenia bisa terjadi karena disebabkan beberapa fase yaitu fase prodromal, fase aktif dan fase residual. Padahal jika diketahui sejak dini dan ditangani dengan baik, gangguan ini bisa diatasi (Kriswandaru, 2006). Pada kenyataannya pasien dengan skizofrenia yang dirawat di rumah sakit jarang dikunjungi oleh keluarganya. Hal ini disebabkan karena keluarga malu ada keluarganya yang menderita penyakit skizofrenia. Padahal, kunjungan keluarga sangat diperlukan oleh pasien skizofrenia guna mempercepat kesembuhan pasien.

Dalam keluarga terdapat suatu sistem yang berisi sejumlah relasi yang berfungsi secara unik. Definisi tentang keluarga tersebut menegaskan bahwa hakikat dari keluarga adalah relasi yang terjalin antara individu yang merupakan komponen dalam keluarganya. Setiap anggota keluarga berhubungan satu sama lain. Dalam relasi yang saling terkait ini, dapat dipahami bahwa bila sesuatu menimpa atau dialami oleh salah satu anggota keluarga dampaknya akan mengenai seluruh anggota keluarga yang lain (Iman Setiadi Arif, 2006).

Semakin dekat hubungan keluarga biologis, semakin tinggi resiko terkena skizofrenia. Beban dan penderitaan keluarga serta kurangnya pengetahuan menghadapi gejala yang berdampak negatif pada pasien. Seorang pasien skizofrenia seringkali tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari keluarga. Padahal, dukungan dari keluarga merupakan faktor penting yang dapat membantu kesembuhan seorang skizofrenia. Untuk itulah, maka diperlukan penyesuaian diri yang baik dan penerimaan dari pihak keluarga akan keadaan dari pasien skizofrenia.

Prevalensi pasien skizofrenia di Indonesia adalah 0,3–1 persen dan biasanya timbul pada usia sekitar 18–45 tahun, namun ada juga yang baru berusia 11–12 tahun sudah menderita skizofrenia. Apabila penduduk Indonesia sekitar 200 juta jiwa, maka diperkirakan sekitar 2 juta jiwa menderita skizofrenia. Skizofrenia adalah gangguan mental yang cukup luas dialami di Indonesia, dimana sekitar 99% pasien di RS Jiwa di Indonesia adalah pasien skizofrenia. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan .............. pada tahun 2008 pasien yang mengalami gangguan jiwa di Kabupaten .............. ditemukan sebanyak 430 pasien.

Berdasarkan data di URJ Psikiatri RSD Dr. Soegiri .............. pada bulan Desember 2008 sampai dengan Januari 2009 terdapat 32 kasus skizofrenia yang rawat jalan. Survey awal yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 9 Februari 2009 dari 10 keluarga pasien skizofrenia yang rawat jalan diperoleh hasil 8 keluarga pasien skizofrenia yang kurang memahami tentang pasien skizofrenia sedangkan 2 keluarga pasien yang mengerti tentang pasien skizofrenia. Dari data diatas, masalah yang timbul adalah masih banyaknya keluarga pasien yang kurang mengetahui tentang penyakit skizofrenia.

Beberapa faktor yang mempengaruhi kurangnya pengetahuan keluarga pasien tentang penyakit skozifrenia yaitu : faktor pendidikan, usia, informasi dan kebudayaan.

Pendidikan merupakan segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan (Soekidjo Notoatmodjo, 2003). Seseorang yang berpendidikan lebih tinggi kemungkinan pandangannya lebih luas, dan juga mempengaruhi terhadap keluarga pasien skizofrenia lebih memahami tentang penyakit skizofrenia. Begitu pula jika seseorang tidak mengenyam pendidikan kemungkinan kurang mengetahui tentang penyakit skizofrenia.

Usia merupakan umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan logis (Nursalam dan Pariani, 2001). Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang lebih dipercaya dari orang yang belum cukup tinggi dewasanya. Sebaliknya, semakin tua umur seseorang makin konstruktif dalam menggunakan koping atau pertahanan terhadap masalah yang dihadapi.

Informasi merupakan kumpulan data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerima baik melalui seseorang, media massa maupun elektronik (Andri Kristanto, 2003). Pengetahuan keluarga pasien yang makin tinggi memudahkan keluarga pasien tersebut menerima informasi dari orang lain maupun media massa. Sebaliknya, pengetahuan keluarga pasien yang kurang mengakibatkan kesulitan dalam menerima informasi dari orang lain maupun media massa. Informasi tentang skizofrenia yang didapatkan keluarga pasien skizofrenia dari media massa menyebabkan keluarga pasien skizofrenia mengerti tentang penyakitnya. Dengan demikian, diperlukan adanya informasi yang adekuat kepada keluarga pasien skizofrenia sehingga keluarga dapat mengawasi keteraturan minum obat serta kontrol secara rutin.

Kebudayaan yang berlaku di suatu wilayah secara tidak langsung akan memberikan pengaruh yang besar kepada seseorang dalam memperoleh pengetahuan (Arimurti, 2002). Biasanya masyarakat yang memegang teguh adat dan budayanya cenderung lebih susah untuk memperoleh pengetahuan sebaliknya masyarakat yang mempunyai kultur budaya terbuka lebih mudah untuk memperoleh pengetahuan.

Salah satu upaya mengatasi dampak dari kurangnya pengetahuan pada keluarga pasien skizofrenia, petugas harus memberikan informasi dalam bentuk penyuluhan secara berkala tiap kontrol agar keluarga pasien skizofrenia dapat mengidentifikasi tanda dan gejala penyakit skizofrenia sehingga keluarga pasien skizofrenia dapat mengantisipasi penyakit skizofrenia dengan tujuan tidak sampai tahap lebih lanjut. Karena banyak faktor yang mempengaruhi masalah diatas, maka peneliti membatasi hanya pada gambaran pengetahuan keluarga pasien skizofrenia tentang penyakit skizofrenia di URJ Psikiatri RSD Dr. Soegiri ...............

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian adalah ”Bagaimana gambaran pengetahuan keluarga pasien skizofrenia tentang penyakit skizofrenia di URJ Psikiatri RSD Dr. Soegiri ..............?”


  1. Tujuan Penelitian

    1. Tujuan Umum

Mengetahui gambaran pengetahuan keluarga pasien skizofrenia tentang penyakit skizofrenia di URJ Psikiatri RSD Dr. Soegiri ...............

    1. Tujuan Khusus

  1. Mengidentifikasi pengertian penyakit skizofrenia di URJ Psikiatri RSD
    Dr. Soegiri ...............

  2. Mengidentifikasi penyebab penyakit skizofrenia di URJ Psikiatri RSD
    Dr. Soegiri ...............

  3. Mengidentifikasi tanda dan gejala penyakit skizofrenia di URJ Psikiatri RSD Dr. Soegiri ...............

  4. Mengidentifikasi penatalaksanaan keperawatan pasien penyakit skizofrenia di URJ Psikiatri RSD Dr. Soegiri ...............


  1. Manfaat Penelitian

    1. Bagi institusi pendidikan

Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan sekaligus sebagai ilmu pengetahuan bagi perkembangan ilmu keperawatan yang dapat disosialisasikan di kalangan institusi keperawatan dan dapat diaplikasikan di kalangan institusi.

    1. Bagi profesi keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi profesi dalam mengembangkan perencanaan keperawatan yang akan dilakukan pada keluarga pasien skizofrenia.

    1. Bagi peneliti yang akan datang

Hasil penelitian dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan kesehatan khususnya ilmu keperawatan untuk dapat diteliti lebih lanjut.

peran keluarga dalam merawat pasien gangguan jiwa yang mengalami kekambuhan di wilayah kerja

BAB I

PENDAHULUAN


    1. Latar Belakang

Hingga sekarang penanganan penderita gangguan jiwa belumlah memuaskan, hal ini terutama terjadi di negara yang sedang berkembang, disebabkan ketidaktahuan (ignorancy) keluarga maupun masyarakat terhadap jenis gangguan jiwa diantaranya adalah masih terdapatnya pandangan yang negative (stigma) dan bahwa gangguan jiwa bukanlah suatu penyakit yang dapat diobati dan disembuhkan. Kedua hal tersebut di atas menyebabkan penderita gangguan jiwa mengalami perlakuan yang diskriminatif dan tidak mendapatkan pertolongan yang memadai. (Dadang Hawari, 2001)

Kekambuhan gangguan jiwa psikotik adalah munculnya kembali gejala-gejala psikotik yang nyata. Angka kekambuhan secara positif hubungan dengan beberapa kali masuk rumah sakit, lamanya dan perjalanan penyakit penderita-penderita yang kambuh biasanya sebelum keluar dari rumah sakit mempunyai karakteristik hiperaktif, tidak mau minum obat dan memiliki sedikit keterampilan sosial. (Porkony dkk, dalam Akbar,2008)

Gangguan jiwa tidak hanya menimbulkan penderitaan bagi individu penderitanya tetapi juga bagi orang yang terdekatnya. Biasanya keluargalah yang paling terkena dampak bagi hadirnya gangguan jiwa di keluarga mereka. Selain biaya perawatan tinggi pasien juga membutuhkan perhatian dan dukungan yang lebih dari masyarakat terutama keluarga, sedangkan pengobatan gangguan jiwa membutuhkan waktu yang relative lama, bila pasien tidak melanjutkan pengobatan maka akan mengalami kekambuhan (Imam Setiadi Arif,2006

Berdasarkan data dinas kesehatan Kabupaten .............. pada Tahun 2009 Pasien yang mengalami gangguan jiwa di Kabupaten .............. ditemukan sebanyak 13709 pasien dan di Puskesmas Kedungpring Tahun 2009 sebanyak 218 pasien sedangkan yang mengalami kekambuhan diwilayah Puskesmas Kedungpring sebanyak 20 pasien.

Hasil survey awal dan hasil wawancara dengan keluarga pasien gangguan jiwa di wilayah kerja Puskesmas Kedungpring, Bulan Januari 2010 ternyata dari 20 pasien gangguan jiwa didapatkan 12 orang atau 60% pasien gangguan jiwa yang mengalami kekambuhan dan 8 orang 40% yang tidak mengalami kekambuhan. Dari data diatas menunjukkan bahwa permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagian besar pasien gangguan jiwa mengalami kekambuan.

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pasien gangguan jiwa mengalami kekambuhan antara lain yaitu, pengetahuan, pendidikan, informasi, sosial ekonomi, dan peran keluarga.

Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yaitu indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kongnitip merupakan dominan yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang atau overt behavior. (Soekidjo Notoatmodjo ; 2003). Dengan pengetahuan yang adekuat keluarga dan pasien gangguan jiwa dapat mengerti perjalanan pasien gangguan jiwa yang pada dasarnya dapat di sembuhkan dengan minum obat secara teratur. Sebaliknya dengan pengetahuan yang inadekuat keluarga dan pasien gangguan jiwa tidak mengerti bahwa gangguan jiwa dapat diobati dan di sembuhkan secara medis.

Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. (Soekidjo Notoatmojo, 2003). Semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan lebih mudah menerima informasi kesehatan jiwa yang diberikan oleh petugas kesehatan sehingga mempengaruhi pikiran seseorang dalam pengambilan suatu keputusan upaya untuk mengobati suatu penyakit. Sebaliknya semakin rendah pendidikan seseorang maka akan sulit menerima informasi karena kurangnya pengetahuan terhadap perjalanan gangguan jiwa.

Informasi merupakan kumpulan data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerima. (Andi Kristaoto, 2003 ). Informasi yang akurat tentang gangguan jiwa, gejala gejalanya dan perjalanan penyakitnya, berbagai bantuan medis dan psikologis yang dapat meningkatkan gejala gangguan jiwa merupakan informasi yang sangat diperlukan keluarga. Informasi yang tepat akan menghilangkan saling menyalakan satu sama lain, memberikan pegangan untuk berharap secara realistis dan membantu keluarga mengarahkan sumber daya yang mereka miliki pada usaha yang produktif. Sebaliknya informasi yang kurang akan memberikan pengertian yang salah terhadap gangguan jiwa.

Sosial ekonomi merupakan faktor yang sering di lihat hubungannya dengan fenomena dan peningkatan angka kejadian dari suatu penyakit, sosial ekonomi ini di tentukan oleh beberapa unsur seperti pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan di tentukan pula pada tempat tinggal. (Soekidjo Notoatmojo, 2003). Sosial ekonomi mempunyai pengaruh yang besar pada pasien gangguan jiwa dimana keadaan sosial ekonomi yang tinggi pasien dapat melanjutkan pengobatan karena mampu memenuhi kebutuhannya, sebaliknya keadaan sosial ekonomi yang rendah dapat menghambat dan membuat pasien gangguan jiwa tidak melanjutkan pengobatannya karena ketidakmampuan memenuhi kebutuhanya.

Keluarga pada hakikatnya merupakan jalinan relasi anggota-anggotanya, merupakan ruang hidup (holding and environment/potential space) bagi para anggotanya. Dalam ruang hidup tersebut para anggota keluarga hidup, berkembang dan berelasi satu sama lain. (Imam Setiadi Arif, 2006). Peran keluarga sangat penting terhadap pasien gangguan jiwa karena pasien gangguan jiwa sangat memerlukan perhatian dari keluarganya. Keluarga merupakan sistem pendukung utama yang memberikan perawatan langsung pada setiap keadaan sehat maupun sakit pasien. Umumnya keluarga akan meminta bantuan tenaga kesehatan jika mereka tidak sanggup lagi merawatnya. Apabila keluarga memahami kebutuhan anggota keluarganya yang sakit maka keluarga akan memberikan dukungan untuk melakukan pengobatan. Sebaliknya apabila keluarga tidak memahami kebutuhan anggota keluarganya yang sakit, maka akan memperburuk perjalanan gangguan jiwa karena pasien tidak mendapatkan perhatian dan dukungan yang semestinya diberikan oleh keluarganya.

Upaya yang dapat dilakukan agar pasien gangguan jiwa melanjutkan pengobatannya yaitu dengan memprioritaskan fasilitas pengobatan gangguan jiwa, meningkatkan mutu dan mengembangkan kegiatan pelayanan kesehatan jiwa. Penyegaran pengetahuan gangguan mental emosional terhadap dokter dan perawat dilakukan secara periodik, disamping itu perlu juga dipertimbangkan tentang perubahan konsep figur psikiater dimasyarakat. Sehingga diharapkan pelayanan kesehatan jiwa dimasyarakat tidak hanya menunggu pasien datang berobat ke fasilitas kesehatan jiwa. Pelayanan prevensi skunder atau mendorong pasien berobat melalui peningkatan pengetahuan gangguan mental emosional terhadap keluarga dan pasien gangguan jiwa, penting bagi keluarga mengupayakan holding environment dengan memecahkan atau mengurangi konflik yang ada diantara mereka dan mempererat relasi dalam keluarga. Mengingat banyaknya faktor yang menyebabkan kekambuhan pasien gangguan jiwa, maka penelitian ini membatasi pada faktor peran keluarga terhadap kekambuhan pasien gangguan jiwa diwilayah kerja Puskesmas Kedungpring.


1.2 Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah yaitu: “Bagaimana peran keluarga dalam merawat pasien gangguan jiwa yang mengalami kekambuhan di wilayah kerja puskesmas kedungpring?”


1.3 Tujuan Penelitian

Mengetahui gambaran peran keluarga dalam merawat pasien gangguan jiwa yang mengalami kekambuhan di wilayah kerja puskesmas kedungpring.


1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

1) Bagi Profesi Keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan-masukan bagi profesi dalam mengembangkan ilmu keperawatan kesehatan jiwa khususnya dalam hal peran keluarga pasien gangguan jiwa.

ambaran peran keluarga dalam perawatan diri pasien gangguan jiwa dirumah diwilayah kerja Puskesmas

BAB 1

PENDAHULUAN


    1. Latar Belakang

Kesehatan jiwa seseorang dikatakan sakit apabila ia tidak lagi mampu berfungsi secara wajar dalam kehidupannya sehari-hari, dirumah, disekolah, dikampus, ditempat kerja dan lingkungan sosialnya. Seseorang yang mengalami gangguan jiwa akan mengalami ketidakmampuan berfungsi secara optimal dalam kehidupannya sehari-hari (Dadang hawari, 2001).

Gangguan jiwa merupakan salah satu dari 4 masalah kesehatan utama dinegara maju, modern dan industri, Keempat masalah kesehatan utama tersebut adalah yaitu penyakit degeneratif, kanker, gangguan jiwa dan kecelakaan. Meskipun gangguan jiwa tersebut tidak dianggap sebagai gangguan yang menyebabkan kematian secara langsung namun beratnya gangguan tersebut dalam arti ketidakmampuan serta identitas secara individu maupun keluarga akan menghambat pertumbuhan karena mereka tidak produktif dan tidak efisien (Dadang hawari, 2001).

Perawatan diri atau kebersihan diri merupakan perawatan diri sendiri yang dilakukan untuk mempertahankan kesehatan baik fisik maupun psikologis, pemenuhan perawatan diri dipengaruhi oleh budaya, nilai sosial pada individu atau keluarga, pengetahuan (Azis Alimul hidayat, 2007).

Pada dasarnya klien gangguan jiwa kronis tidak mampu melakukan fungsi dasar secara mandiri misalnya kebersihan diri, penampilan dan sosialisasi. Klien seperti ini tentu akan ditolak oleh keluarga dan masyarakat, oleh karena itu klien mengkuti program latihan “Perawatan Mandiri”, yang disebut rehabilitasi untuk mempelajari dan mengembangkan ketrampilan hidup sendiri (Budi Anna keliat, 1992).

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten .............. pada tahun 2009 pasien yang mengalami gangguan jiwa di Kabupaten .............. ditemukan sebanyak 13.709 pasien. Data Puskesmas Kedungpring pada tahun 2009 yang mengalami gangguan jiwa diwilayah kerja Kedungpring ditemukan sebanyak 20 pasien yang mengalami gangguan jiwa. Hasil survey awal dan hasil wawancara pada keluarga pasien gangguan jiwa di Wilayah kecamatan Kedungpring, bulan Pebruari 2010 ternyata dari 10 pasien gangguan jiwa didapatkan 7 orang atau 70% pasien gangguan jiwa tidak dilakukan perawatan diri, dan 3 orang atau 30% dilakukan perawatan diri. Sehingga permasalahan dalam penelitian ini adalah masih banyak pasien gangguan jiwa yang kurang mendapat perawatan diri dirumah.

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pasien kurang mendapat perawatan diri dirumah antara lain pengetahuan, pendidikan, informasi, sosial ekonomi, peran keluarga.

Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seorang (Soekidjo Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan keluarga yang adekuat maka keluarga dapat mengerti perawatan diri pasien di rumah, sebaliknya dengan pengetahuan keluarga yang kurang maka pasien gangguan jiwa akan kurang mendapat perawatan diri.

Pendidikan secara umum merupakan segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan (Soekidjo Notoatmodjo, 2003) semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan lebih mudah menerima informasi kesehatan jiwa yang diberikan oleh petugas kesehatan sehingga mempengaruhi pikiran seseorang dalam mengambil suatu keputusan upaya perawatan diri. Sebaliknya semakin rendah pendidikan seseorang akan sulit menerima informasi karena kurangnya pengetahuan terhadap perjalanan gangguan jiwa.

Informasi merupakan kumpulan data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerima (Ely W, 2009) informasi yang akurat tentang gangguan jiwa merupakan sebagian informasi yang sangat diperlukan keluarga, informasi yang ketat akan menghilangkan saling menyalahkan satu sama lain, memberikan pegangan untuk berharap secara realitis dan membantu keluarga mengarahkan sumber daya yang mereka miliki pada usaha-usaha yang produktif, sebaliknya informasi yang kurang akan memberikan pengertian yang salah terhadap gangguan jiwa.

Sosial ekonomi merupakan faktor yang sering dilihat hubungannya dengan fenomena dan peningkatan kejadian dari suatu penyakit, sosial ekonomi ini ditentukan oleh beberapa unsur seperti pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan ditentukan pula pada tempat tinggal (Soekidjo Notoatmodjo, 2003).

Peran keluarga sangat penting terhadap pasien gangguan jiwa karena pasien gangguan jiwa sangat menerima perawatan dari keluarganya (Ely w, 2009). Keluarga merupakan sistem pendukung utama yang memberi perawatan langsung pada setiap keadaan sehat maupun sakit, umumnya kelurga akan meminta bantuan tenaga kesehatan jika mereka tidak sanggup lagi merawatnya, oleh karena itu betapa pentingnya peran keluarga dalam perawatan gangguan jiwa, karena sangat menguntungkan pada proses pemulihan klien (Iyus Yosep, 2009)

Dampak yang timbul dari pasien yang kurang mendapat perawatan diri di rumah adalah pasien mudah terserang oleh berbagai penyakit, dalam aktivitas hidup sehari-hari pasien yang kurang mendapatkan perawatan diri akan ditolak oleh masyarakat karena personal hygiene yang tidak baik, pasien mempunyai Harga Diri rendah khususnya dalam hal identitas dan perilaku, pasien menganggap dirinya tidak mampu untuk mengatasi kekurangannya. Sehingga peran keluarga sangat penting dalam memberi perawatan langsung pada pasien.

Upaya yang dilakukan oleh keluarga dalam menangani pasien gangguan jiwa dirumah, perawatan pasien dirumah mungkin jauh lebih baik karena kesembuhan pasien gangguan jiwa relatif lama karena merupakan penyakit kronis, sebaiknya keluarga lebih sering berkomunikasi dengan anggota kesehatan dalam perawatan diri di rumah karena pelayanan kesehatan jiwa merupakan fasilitas yang membantu pasien dan keluarga dalam mengembangkan kemampuan mencegah terjadinya masalah oleh karena itu setelah pasien pulang kerumah, sebaiknya pasien melakukan perawatan lanjutan pada Puskesmas di wilayahnya yang mempunyai program Integrasi kesehatan jiwa. Perawat komuniti yang menanggani pasien dapat menganggap rumah pasien sebagai “ruang perawatan” keluarga bekerja sama membantu proses adaptasi pasien didalam keluarga dan masyarakat. Sehingga perawat dapat membuat kontrak dengan keluarga tentang jadwal kunjungan rumah dan aftercare di puskesmas.

Mengingat banyaknya faktor yang menyebabkan pasien gangguan jiwa kurang mendapat perawatan diri di rumah maka peneliti membatasi pada faktor peran keluarga dalam perawatan pasien gangguan jiwa di wilayah kerja Puskesmas Kedungpring.


1.2 Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan pertanyaan masalah yaitu :

Bagaimana gambaran peran keluarga dalam perawatan diri pasien gangguan jiwa dirumah diwilayah kerja Puskesmas Kedungpring “.


    1. Tujuan Penelitian

      1. Tujuan Umum

Mengidentifikasi peran keluarga dalam perawatan diri pasien gangguan jiwa dirumah diwilayah kerja Puskesmas Kedungpring.



      1. Tujuan Khusus

  1. Mengidentifikasi peran keluarga dalam memenuhi kebutuhan mandi pasien gangguan jiwa di rumah di wilayah Kecamatan Kedungpring.

  2. Mengidentifikasi peran keluarga dalam memenuhi kebutuhan makan pasien gangguan jiwa di rumah di wilayah Kecamatan Kedungpring.

  3. Mengidentifikasi peran keluarga dalam memenuhi kebutuhan pakaian atau dandan pasien gangguan jiwa di rumah di wilayah Kecamatan Kedungpring.

  4. Mengidentifikasi peran keluarga dalam memenuhi kebutuhan toileting pasien gangguan jiwa di rumah di wilayah Kecamatan Kedungpring.

  5. Mengidentifikasi peran keluarga dalam memenuhi kebutuhan Instrumental pasien gangguan jiwa di rumah di wilayah Kecamatan Kedungpring.

  6. Mengidentifikasi peran keluarga dalam perawatan diri pasien gangguan jiwa di rumah di wilayah Kecamatan Kedungpring.






    1. Manfaat Penelitian

      1. Manfaat Teoritis

  1. Bagi profesi keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan-masukan bagi profesi dalam mengembangkan ilmu keperawatan kesehatan jiwa khususnya dalam hal peran keluarga pasien gangguan jiwa.

  1. Bagi penelitian yang akan datang

Dapat dipakai sebagai referensi dalam penelitian lain terutama penelitian gangguan jiwa.

      1. Manfaat praktis

  1. Bagi responden

Dapat memberi gambaran pada keluarga tentang perawatan pasien gangguan jiwa.

  1. Bagi institusi terkait

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dalam meningkatkan perawatan pasien gangguan jiwa.


gambaran depresi pasien jantung koroner di URJ Jantung

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Penyakit jantung merupakan salah satu penyakit yang mungkin termasuk pembunuh manusia yang cukup ganas. Berbagai gangguan pada jantung, baik yang bersifat bawaan maupun didapat merupakan penyakit serius bagi umat manusia (Bisma, 1997 : 88). Jenis penyakit jantung yang menjadi momok salah satunya adalah penyakit jantung koroner. Penyakit jantung koroner merupakan penyebab kematian utama didunia saat ini bersama stroke, tiap 34 detik 1 orang meninggal karena penyakit ini (Siswono, 2000).
Hasil penelitian epidemiologi mengemukakan bahwa penduduk yang kejadian penyakit jantung koronernya tinggi ternyata pola makannya cenderung kaya total lemah yaitu lemah jenuh dan kolesterol. Selain itu kegemukan dan kurang gerak atau olahraga sebagai akibat perubahan gaya hidup mempunyai andil dalam peningkatan kadar kolesterol dan kejadian penyakit jantung koroner (Tjokronegoro, 1999 : 160).
Prevalensi penyakit kardiovaskuler yang didalamnya termasuk penyakit jantung koroner menempati urutan pertama penyebab seluruh kematian di Indonesia. Pada Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) prevalensi penyakit jantung koroner tahun 1995 yaitu 15%, tahun 2001 meningkat menjadi 18,5%. Sedangkan hasil SUKERNAS tahun 2003 prevalensi penyakit jantung koroner menunjukkan angka 26,4% (Siswono, 2005). Catatan di rekam medis RSD Dr. Soegiri ................. jumlah pasien jantung koroner tahun 2005 191 pasien (10,20%) dari total 1.088 kunjungan pasien di URJ Jantung, tahun 2006 sebanyak 128 pasien (10,87%) dari total kunjungan 1.177 pasien di URJ Jantung dan tahun 2007 sampai dengan bulan Agustus sebanyak 102 pasien (15,11%) dari total kunjungan 675 pasien di URJ Jantung. Hasil survei awal yang dilakukan pada 6 pasien jantung koroner didapatkan 4 orang (66,6%) mengalami depresi dan 2 orang (33,4%) tidak mengalami depresi.
Salah dampak psikologis bila pasien didiagnosa menderita penyakit jantung koroner kemungkinan akan mengakibatkan suatu kecemasan yang mendalam sampai terjadi depresi. Menurut Dadang Hawari (1997 : 56) depresi merupakan masalah kesehatan jiwa yang sering terjadi pada pasien-pasien yang terdiagnosa penyakit terminal seperti penyakit jantung koroner dan kanker. Apabila seseorang mengalami depresi maka akan berdampak pada produktifitas kerja menurun dan juga merupakan penyebab utama tindakan bunuh diri.
Depresi bisa disebabkan kombinasi beberapa faktor seperti faktor keturunan, faktor perkembangan, faktor psikologis misalnya kesedihan yang mendalam dan stress, yang menjadi satu sehingga menimbulkan depresi. Hal yang sama diungkapkan oleh Sjamsuhidayat (1997 : 157) bahwa berbagai penyakit kronis yaitu kanker, jantung dan penyakit terminal lainnya merupakan penyebab terjadinya depresi.
Untuk mengatasi keadaan tersebut diatas, maka peran perawat atau petugas kesehatan amatlah penting yaitu dengan memberikan pendidikan kesehatan tentang penyakit jantung koroner, terapi dan pencegahan-pencegahan yang harus dilakukan untuk mengurangi kekambuhan serta informasi yang adekuat baik secara lahiriyah dan batiniyah sehingga pasien mampu mengatasi masalah yang terjadi sehingga tidak mengalami depresi.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka peneliti merumuskan pertanyaan masalah sebagai berikut :
Bagaimana gejala depresi pasien jantung koroner di URJ Jantung RSD Dr. Soegiri ................. ?
Bagaimana tingkat depresi pasien jantung koroner di URJ Jantung RSD Dr. Soegiri ................. ?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui gambaran depresi pasien jantung koroner di URJ Jantung RSD Dr. Soegiri .................
1.3.2 Tujuan Khusus
Mengidentifikasi gejala depresi pasien jantung koroner di URJ Jantung RSD Dr. Soegiri ................. berdasarkan skala BDI (Beck Depresion Inventory)
Bagaimana tingkat depresi pasien jantung koroner di URJ Jantung RSD Dr. Soegiri ................. berdasarkan skala BDI (Beck Depresion Inventory)


1.4 Manfaat Penelitian
Bagi Peneliti
Dapat digunakan sebagai tambahan dan masukan ilmu pengetahuan di bidang keperawatan tentang depresi pada pasien jantung koroner.
Bagi Institusi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar acuan perawatan pasien jantung koroner.

1.5 Batasan Penelitian
Dari beberapa faktor yang menyebabkan depresi pada pasien penyakit jantung koroner, peneliti hanya membatasi pada gambaran depresi pasien jantung koroner.

hubungan antara peran keluarga dalam kepatuhan klien skizofrenia dalam minum obat di URJ Psikiatri

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Penyakit skizofrenia memang masih kurang populer di kalangan masyarakat awam. Tetapi gangguan jiwa ini sudah mulai mencemaskan karena sampai sekarang penanganannya masih belum memuaskan. Di masa lalu banyak orang menganggap skizofrenia merupakan penyakit yang tidak dapat diobati. Akan tetapi seiring dengan kemajuan dibidang ilmu kedokteran jiwa maka kini anggapan itu berlangsung hilang dan diakui skizofrenia sebenarnya termasuk gangguan kesehatan dan termasuk dalam ilmu kedokteran jiwa (psikiatri) yang penanganannya sesuai dengan terapi kedokteran sebagaimana halnya penyakit fisik lainnya (Dadang Hawari, 2001 : 1).
Gangguan jiwa skizofrenia tidak terjadi dengan sendirinya begitu saja. Akan tetapi banyak faktor yang menyebabkan terjadinya gejala-gejala skizofrenia. Berbagai penelitian telah banyak dilakukan untuk menjelaskan tentang penyebab skizofrenia. Dalam teori biologi menjelaskan penyebab skizofrenia yang berfokus pada faktor genetik, faktor neuronatomi dan neurokimia (struktur dan fungsi otak) serta imunovirologi atau respon tubuh terhadap pejanan suatu virus (Sheila L. Videbeck, 2008 : 35).
Terapi yang komperehensif dan holistik, dewasa ini sudah mulai dikembangkan meliputi terapi obat-obatan anti skizofrenia (psikofarmaka), psikoterapi, terapi psikososial dan terapi psikoreligius. Terapi tersebut, khususnya obat psikofarmaka harus diberikan dalam jangka waktu yang lama. Apabila klien sampai telat atau tidak patuh minum obat, maka klien bisa kambuh (relaps). Mereka bisa melakukan perilaku kekerasan, muncul halusinasi dan waham serta pembicaraan yang inkoherensi. Keberhasilan terapi gangguan jiwa skizofrenia tidak hanya terletak pada terapi obat psikofarmaka dan jenis terapi lainnya, tetapi juga peran serta keluarga dan masyarakat turut menentukan (Dadang Hawari, 2001 : 96)
Di Indonesia, sebanyak 1-3 orang dari 1000 penduduk mengalami gangguan jiwa. Dari 1-3 penderita tersebut separuh diantaranya berlanjut menjadi gangguan jiwa berat skizofrenia. Akibatnya jumlah skizofrenia di Indonesia terutama di Jawa Timur mencapai 2% dari populasi (Pd.Persi, 2008). Data di Dinas Kesehatan .................... pada tahun 2008 ditemukan 480 penduduk yang mengalami gangguan jiwa. Menurut data di URJ Psikiatri RSD Dr. Soegiri .................... pada bulan Desember 2008 dan Januari 2009 terdapat 32 klien skizofrenia yang rawat jalan. Survey awal yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 9 Februari 2008 dari 10 klien skizofrenia yang rawat jalan diperoleh hasil 6 klien sering lupa untuk minum obat harus diingatkan keluarga terlebih dahulu. Sedangkan 4 yang lainnya lebih patuh dalam minum obat. Dari data di atas dapat dinyatakan bahwa masih cukup banyak klien skizofrenia yang lupa minum obat atau kurang patuh dalam minum obat.
Beberapa faktor yang mempengaruhi kepatuhan klien skizofrenia untuk minum obat antara lain yaitu peran keluarga, sosial ekonomi, sikap klien, motivasi, ingatan atau memori klien serta informasi dari petugas kesehatan.
Peran merupakan seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu sistem (Wahit Iqbal Mubarak, 2005 : 75). Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Sudiharto, 2007 : 22). Peran keluarga sangat penting terhadap pengobatan pasien skizofrenia. Karena pada umumnya klien skizofrenia belum mampu mengatur dan mengetahui jadwal dan jenis obat yang akan diminum. Keluarga harus selalu membimbing dan mengarahkannya, agar klien skizofrenia dapat minum obat dengan benar dan teratur.
Sosial ekonomi merupakan aturan yang berlaku untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam suatu rumah tangga, misalnya pendapatan jauh lebih rendah dari pengeluaran, terlibat hutang, kebangkrutan, soal warisan dan lain sebagainya (Dadang Hawari, 2001 : 33). Masalah sosial ekonomi dapat mempengaruhi kepatuhan klien skizofrenia dalam minum obat karena jika sosial ekonomi mereka rendah maka mereka tidak akan mampu membeli obat.
Sikap merupakan keadaan mental dan syaraf yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah terhadap respon individu pada semua objek dan situasi yang berkaitan dengannya (Tri Rusmi W. : 1999 : 218). Sementara itu sikap klien skizofrenia sulit untuk diarahkan dan mudah untuk bosan dan malas terhadap sesuatu. Pengobatan skizofrenia membutuhkan waktu relatif lama karena skizofrenia merupakan penyakit menahun. Dengan demikian klien skizofrenia akan cenderung bosan dan tidak patuh untuk minum obat.
Motivasi merupakan dorongan, dasar yang berasal dari dalam diri individu yang menggerakkan seseorang bertingkah laku (Hamzah B. Uno, 2007 : 1). Motivasi dari klien sangatlah penting dalam pengobatan karena akan mempengaruhi kesembuhan klien. Semakin besar motivasi klien maka akan mempengaruhi kepatuhan mereka dalam minum obat.
Ingatan atau memori adalah sebuah fungsi dari kognisi yang melibatkan otak dalam pengambilan informasi (Wikipedia, 2009). Skizofrenia merupakan penyakit yang mempengaruhi otak. Oleh karena itu memori klien skizofrenia kacau dan sulit mengingat sesuatu, maka mereka akan sering lupa atau tidak patuh untuk minum obat. Oleh karena itu anggota keluarga yang lain harus senantiasa mengontrol atau membimbing klien dalam minum obat dengan benar.
Informasi merupakan pengetahuan yang didapatkan dari pembelajaran, pengalaman atau instruksi (Wikipedia, 2009). Dalam terapi pengobatan skizofrenia informasi tidak hanya kita berikan kepada klien saja, mengingat klien skizofrenia sulit untuk mengingat dan mempelajari sesuatu, maka sebaiknya informasi juga diberikan kepada keluarga. Mereka bisa memahami tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan kepada klien skizofrenia khususnya dalam hal minum obat, sehingga mereka selalu bisa mengontrol dan membimbing klien dalam minum obat.
Salah satu upaya untuk menciptakan kepatuhan klien skizofrenia dalam minum obat adalah dengan meningkatkan peran keluarga, petugas dan psikiater. Mereka harus bekerja sama agar klien skizofrenia bersedia minum obat dengan tepat dan teratur. Petugas dan psikiater harus memberikan health education pada keluarga, khususnya tentang pemakaian obat dengan benar dan teratur agar keluarga bisa mengontrol dan membimbing klien dalam minum obat selama di rumah.
Mengingat banyaknya faktor yang mempengaruhi kepatuhan klien skizofrenia untuk minum obat, maka peneliti hanya membatasi pada hubungan antara peran keluarga dengan kepatuhan klien skizofrenia untuk minum obat di URJ Psikiatri RSD Dr. Soegiri .....................

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan pertanyaan masalah sebagai berikut :
1) Bagaimanakah peran keluarga klien skizofrenia?
2) Bagaimanakah kepatuhan klien skizofrenia dalam minum obat?
3) Adakah hubungan antara peran keluarga dalam kepatuhan klien skizofrenia dalam minum obat di URJ Psikiatri RSD Dr. Soegiri ....................?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Menganalisis hubungan antara peran keluarga terhadap kepatuhan klien skizofrenia dalam minum obat di URJ Psikiatri RSD Dr. Soegiri .....................

1.3.2 Tujuan Khusus
1) Mengidentifikasi peran keluarga klien skizofrenia.
2) Mengidentifikasi tingkat kepatuhan klien skizofrenia dalam minum obat.
3) Menganalisis hubungan antara peran keluarga dengan kepatuhan klien skizofrenia dalam minum obat di URJ Psikiatri RSD Dr. Soegiri .....................

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Sebagai bahan dasar untuk mengetahui bagaimana hubungan peran keluarga terhadap kepatuhan klien skizofrenia dalam minum obat.
1.4.2 Bagi Peneliti yang akan datang
Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran serta informasi dan acuan bagi peneliti berikutnya.
1.4.3 Bagi Petugas Kesehatan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat dan masukan bagi profesi keperawatan dalam mengembangkan perencanaan yang akan dilakukan tentang peran keluarga dalam kepatuhan klien skizofrenia untuk minum obat.
1.4.4 Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi institusi dan hasilnya dapat digunakan sebagai awal untuk penelitian selanjutnya.

pengetahuan keluarga tentang tugas perkembangan bayi usia 0-12 bulan di

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Secara alamiah setiap individu hidup akan melalui tahapan pertumbuhan dan perkembangan yaitu sejak masa embrio sampai hayatnya mengalami perubahan kearah peningkatan baik secara ukuran maupun kematangan. Kecepatan pertumbuhan dan perkembangan anak akan bervariasi dari satu anak dengan anak lainnya (Supartini, 2004 : 48). Perkembangan menitik beratkan pada perubahan yang terjadi secara bertahap dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi dan komplek melalui proses maturasi dan pembelajaran. Perkembangan berhubungan dengan perubahan secara kualitas, diantaranya terjadi peningkatan kapasitas individu untuk berfungsi yang dicapai melalui proses pertumbuhan, pematangan dan pembelajaran (Wong, 2000).
Selama periode perkembangan anak terdapat masa kritis, dimana diperlukan rangsangan atau stimulasi yang berguna agar potensi dapat berkembang secara optimal. Perkembangan anak akan optimal bila interaksi sosial diusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangannya, bahkan sejak bayi dalam kandungan, sedangkan lingkungan yang tidak mendukung akan menghambat perkembangan anak tersebut. Perkembangan anak baik perkembangan fisik yang terdiri dari motorik kasar dan halus, kognitif, emosi, bahasa, personal sosial, memerlukan deteksi dan intervensi dini guna membantu agar tumbuh kembang anak dapat berlangsung seoptimal mungkin (Soetjiningsih, 1995 : 29). Kemajuan perkembangan anak ditentukan oleh pencapaian kemampuan fungsional yang memiliki prinsip bahwa terdapat pola kemajuan yang nyata dan konsisten yang dapat digambarkan dalam kemajuan ke jenjang yang penting. Untuk mengetahui perkembangan kesehatan bayi dan anak, sejak tahun 2006 oleh Departemen Kesehatan telah dikembangkan buku pemantau kesehatan ibu dan anak. Dengan adanya buku tersebut, diharapkan bayi dan anak dapat terpantau perkembangan baik oleh ibu maupun oleh petugas kesehatan.
Hasil penelitian pada balita diberbagai daerah di Indonesia didapatkan hasil bahwa masih banyak orang tua yang hanya menguasai sedikit saja cara mengasuh anak (Schaefer, 1992). Hal tersebut dikuatkan oleh Sacharin (1996 : 50) bahwa keluarga harus dapat mengasuh anaknya sesuai tingkat perkembangan dan pertumbuhan, yang mana dengan pola asuh yang baik akan menjadikan seorang anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya sehingga anak tidak mengalami salah asuh dari orang tua. Penelitian tersebut menjadi cerminan bahwa di negara berkembang terdapat banyak masalah dalam tumbuh kembang anak, hal ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa masih banyak orang tua yang mengabaikan apa yang dibutuhkan anak dalam mencapai perkembangan yang optimal. Banyak orang tua berpikir bahwa perkembangan anak tidak membutuhkan perhatian yang khusus. Keadaan tersebut diperkuat dari survei awal pada 10 ibu Di Desa Pucuk didapatkan data bahwa 6 (60%) ibu belum melaksanakan cara mengasuh anak yang benar, sedangkan (40%) ibu telah melaksanakan cara mengasuh anak yang benar. Mereka beranggapan bahwa jika pertumbuhan fisik anaknya normal maka perkembangannya juga tidak ada masalah, serta berpikir bahwa perkembangan anak tidak membutuhkan perhatian yang khusus, sehingga hal ini dapat mengganggu perkembangan anak.
Berbagai faktor yang dapat menyebabkan pengasuhan anak yang kurang benar diantaranya adalah : pengetahuan, kebudayaan, lingkungan dan keluarga.
Pengetahauan keluarga yang memadai tentang perkembangan anak akan digunakan oleh keluarga sebagai dasar untuk melaksanakan pengasuhan yang benar diantaranya dengan cara melakukan stimulasi dan deteksi dini terhadap terjadinya penyimpangan tumbuh kembangnya. Hal ini sesuai dengan konsep yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2003), bahwa perilaku yang didasari pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif akan langgeng, sebaliknya dengan pengetahuan yang rendah pengasuhan yang dilakukan juga kurang memadai.
Kebudayaan bisa tercipta dari inisiatif dan kreatif manusia, kebudayaan keluarga yang mendukung kebudayaan akan memberi dampak pengasuhan yang baik, sebaliknya kebudayaan yang kurang mendukung akan memberi dampak pengasuhan yang tidak memadai.
Lingkungan pada dasarnya merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar tempat tinggal kita diantaranya adalah masyarakat. Kondisi lingkungan yang memperhatikan pengasuhan anak dengan baik akan memberi contoh nyata bagi masyarakat yang ada disekelilingnya sehingga akan tercipta keadaan yang baik dalam hal pengasuhan anak, sebaliknya kondisi lingkungan yang tidak memperhatikan pengasuhan anak, maka pengasuhan terehadap anak menjadi kurang memadai.
Keluarga mempunyai pengaruh yang besar dalam perkembangan anaknya, apabila keluarga tidak mendukung upaya perkembangan anaknya atau tidak berupaya memperoleh informasi tentang perkembangan anak dan menganggap perkembangan bayi atau anak itu alamiah saja, maka keluarga tersebut tidak bisa mengetahui apakah perkembangan anaknya terhambat atau tidak, demikian juga sebaliknya.
Anak yang tidak mendapat pengasuhan dengan benar dapat menyebabkan berbagai masalah diantaranya adalah gangguan atau keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan, oleh karena itu deteksi dini adanya masalah dan keterlambatan perkembangan anak sangat membantu mencegah resiko terjadinya penyimpangan tahapan perkembangan anak, maka dibutuhkan peran aktif orang tua salah satunya dengan menciptakan lingkungan yang dapat merangsang seluruh aspek perkembangan anak dan juga diperlukan pengetahuan ibu tentang perkembangan bayi usia 0-12 bulan.
Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah telah melaksanakan program DDTK balita, buku kesehatan ibu dan anak, sebagai alat komunikasi, edukasi dan pemantauan kesehatan serta peranan daripihak swasta tentang pemasangan poster, leaflet dan sejenisnya, tetapi pada kenyataannnya masih timbul masalah rendahnya pengasuhan anak yang benar, maka perawat perlu meningkatkan perannya terutama dengan memberikan penyuluhan yang benar tentang pengasuhan anak sehingga pengetahuan orang tua tentang tugas perkembangan anak dapat meningkat karena keluarga merupakan bagian terkecil dari masyarakat, dan dalam keluarga itulah kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak ditentukan. Keluarga pula yang dapat memenuhi kebutuhan anak akan asuh, asih dan asah.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah maka dapat dirumuskan pertanyaan masalah : “Bagaimana pengetahuan keluarga tentang tugas perkembangan bayi usia 0-12 bulan di Desa Pucuk Kecamatan Pucuk ?”

1.3 Tujuan Penelitian
Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang tugas perkembangan bayi usia 0-12 bulan di Desa Pucuk Kecamatan Pucuk.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Instansi atau Institusi Tempat Penelitian
Sebagai informasi dan masukan mengenai pengetahuan keluarga tentang tugas perkembangan bayi usia 0-12 bulan, sehingga dapat memberikan masukan terhadap tindak lanjut dalam meningkatkan pengetahuan orang tua.
1.4.2 Bagi Peneliti
Sebagai pengalaman dalam menerapkan ilmu di lapangan dan mendapatkan suatu gambaran dalam masyarakat mengenai pengetahuan keluarga tentang tugas perkembangan bayi usia 0-12 bulan.


1.4.3 Bagi Profesi
Dapat memberikan masukan bagi profesi dalam mengembangkan perencanaan untuk penyuluhan kesehatan khususnya dalam hal cara pemantauan perkembangan pada anak.

1.5 Batasan Penelitian
Mengingat banyaknya faktor yang dapat menyebabkan kemampuan keluarga dalam pengasuhan anak kurang benar, maka peneliti membatasi pada ”pengetahuan keluarga tentang tugas perkembangan bayi usia 0-12 bulan”.

gambaran pengetahuan ibu tentang pemberian MP-ASI pada bayi usia 0-6 bulan

BAB 1

PENDAHULUAN


    1. Latar Belakang

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan dan minuman yang paling sempurna bagi bayi selama bulan-bulan pertama kehidupannya (Margaret Lowson, 2003). Sejak awal kelahirannya sampai bayi berusia 6 bulan, ASI merupakan sumber nutrisi utama bayi. Komposisi ASI sempurna sesuai kebutuhan bayi sehingga walaupun hanya mendapatkan ASI dibeberapa bulan kehidupannya, bayi bisa tumbuh optimal. ASI sangat bermanfaat untuk kekebalan tubuh bayi karena didalamnya terdapat zat yang sangat penting yang sudah terbukti melawan berbagai macam infeksi, seperti ISPA, peradangan telinga, infeksi dalam darah dan sebagainya.

Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) merupakan makanan lain yang selain ASI. Makanan ini dapat berupa makan yang disiapkan secara khusus atau makanan keluarga yang dimodifikasi (Lilian Juwono: 2003). Pada umur 0-6 bulan, bayi tidak membutuhkan makanan atau minuman selain ASI. Artinya bayi hanya memperoleh susu ibu tanpa tambahan cairan lain, baik susu formula, madu, air teh. Bayi juga tidak diberi makanan padat lain seperti pisang dan nasi lumat, bubur, susu, biskuit, nasi tim dan lain-lain.

MP-ASI harus mulai diberikan ketika bayi tidak lagi mendapat cukup energi dan nutrien dari ASI saja. Untuk kebanyakan bayi, makanan tambahan mulai diberikan pasa usia 6 bulan keatas. Pada usia ini MP-ASI sangat penting untuk menambah energi dan zat gizi yang diperlukan.

Kenyataannya di lapangan masih banyak ibu yang memberikan MP-ASI pada bayinya meskipun umurnya masih belum mencapai 6 bulan. Padahal apabila memberikan MP-ASI terlalu dini, bayi akan minum ASI lebih sedikit dan ibupun memproduksi lebih sedikit, hingga akan lebih sulit untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi. Di samping itu resiko infeksi dan diare kemungkinan bisa terjadi.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mujirah (tidak dipublikasikan) pada tahun 2009 di poli tumbuh kembang anak RSUD Dr. Soetomo Surabaya selama bulan Agustus 2008 dari 46 bayi usia 0 sampai 6 bulan didapatkan 23 bayi atau 51% sudah mulai diperkenalkan MP-ASI berupa buah-buahan, tepung-tepungan, sayur-sayuran, daging ikan dan telur secara dini.

Survey awal yang dilakukan peneliti di desa Puncak Wangi dan Kuripan pada 17 Februari 2010 jumlah bayi yang berumur 0-6 bulan yaitu 36 bayi. Bayi yang diberi ASI saja hanya 9 bayi atau 25%, dan terbanyak bayi diberi ASI dan MP-ASI yaitu sejumlah 22 bayi atau 61%, sedangkan 5 bayi atau 13,8% diberikan PASI dan MP-ASI.

Dengan uraian tersebut maka masalah dalam penelitian ini adalah banyaknya bayi usia 0-6 bulan yang diberi MP-ASI yang memungkinkan disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya pengetahuan, peran tenaga kesehatan, pendidikan, kultur budaya dan peran keluarga.

Pengetahuan merupakan penampilan dari hasil tahu dan terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Soekidjo Notoatmodjo,2007). Apabila pasangan orang tua memiliki pengetahuan


yang baik tentang pentingnya pemberian ASI, maka akan mantap untuk memberikan ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan, sebaliknya jika pasangan orang tua tidak memiliki pengetahuan yang adekuat maka orang tua tidak mengerti tentang pentingnya pemberian ASI, dapat dikatakan asal bayi mereka kenyang, sehingga MP-ASI diberikan terlalu dini.

Perawat atau petugas kesehatan sebagai “educator” peran ini dilaksanakan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, sehingga terjadi perubahan tingkah laku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan (Wahid Iqbal, 2005 : 76). Mengingat pentingnya pengetahuan ibu tentang pemberian MP-ASI sesuai usia maka petugas kesehatan terutama perawat harus memberikan penyuluhan kepada ibu dan keluarga.

Pendidikan merupakan suatu proses yang sangat komplek dengan tujuan akhir terjadi perubahan perilaku pada diri seseorang (Aziz Alimul, 2002). Dengan pendidikan yang tinggi kemungkinan seseorang akan lebih tahu dan mudah menerima informasi yang telah didapat dari pendidikannya, sehingga tidak tertinggal oleh adanya informasi yang baru yang dapat mengubah perilaku seseorang. Dan juga tidak tertinggal oleh adanya informasi yang baru dalam pemberian makanan tambahan yang baru boleh diberikan pada bayi usia 6 bulan ke atas, atau sebaliknya bila pendidikan seseorang rendah kemungkinan akan menghambat seseorang untuk menerima informasi yang baru mengenai pemberian makanan tambahan yang baru boleh diberikan pada bayinya antara usia 6 bulan keatas.

Budaya merupakan kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita.(Wahid Iqbal, 2007) yang telah melekat pada masyarakat kemungkinan sulit untuk diubah karena kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat sehingga akan merekat pada diri seseorang, termasuk budaya dalam pemberian makanan pendamping bagi bayi yang berumur kurang dari 6 bulan. Dengan memberikan nasi pisang lumat yang sebenarnya tidak dibenarkan karena bayi yang berusia kurang dari 6 bulan kemampuan ususnya atau pencernaannya masih terbatas, sehingga makanan masih belum dapat dicerna dengan baik dan dapat menyebabakan diare maupun alergi. Budaya masyarakat yang memberikan dampak yang negatif dengan adanya MP-ASI yang seharusnya di berikan pada bayi usia 6 bulan keatas. Tetapi sudah di berikan pada usia kurang dari 6 bulan.

Peran keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal sifat kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu (Nasrul Effendi, 1998 :34). Keberhasilan dalam memberikan makanan pada bayi tidak hanya tergantung pada ibu saja, tetapi dukungan dan peran serta keluarga mempunyai peran yang sangat penting dalam pemberian nutrisi pada bayi. Keluarga sebaiknya memahami mengenai MP-ASI, terutama mengenai kapan MP-ASI harus diberikan, jenis, bentuk dan jumlahnya. Peran keluarga berperan penting bagi pemeliharaan kesehatan keluarga. Keluarga yang terdiri dari ibu, ayah, dan anak harus mempunyai sifat yang positif terhadap situasi dalam keluarga kemungkinan ibu dapat memberikan makanan pendamping secara benar. Dampak apabila pemberian MP-ASI terlalu dini maka bayi akan mendapat zat immun ASI lebih sedikit, sehingga resiko infeksi meningkat. Resiko diare juga meningkat karena makanan tambahan tidak sebersih ASI. Ibu mempunyai resiko lebih tinggi untuk hamil kembali jika jarang menyusui. Sedangkan bila pemberian MP-ASI terlalu lambat maka anak tidak akan mendapatkan makanan ekstra yang dibutuhkan untuk mengisi kesenjangan energi dan nutrien. Anak berhenti pertumbuhannya, atau tumbuh lambat. Pada anak resiko malnutrisi dan defisiensi mikronutrien meningkat.

Untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang waktu pemberian MP-ASI dalam hal ini petugas kesehatan khususnya tenaga perawat diharapkan dapat memberikan penjelasan pada orang tua mengenai upaya yang dapat dilakukan untuk memberikan stimulus pada anaknya, sehingga anak tersebut dapat tumbuh dan berkembang secara baik (Nursalam, 2005).

Dengan banyaknya faktor yang melatarbelakangi tingginya angka ibu yang memberi MP-ASI pada bayi usia 0-6 bulan ,maka peneliti hanya membatasi pada Gambaran pengetahuan ibu tentang pemberian MP-ASI pada bayi usia 0-6 bulan di Desa Puncak Wangi dan Kuripan Kecamatan Babat Kabupaten ...............


    1. Rumusan masalah

Bagaimana gambaran pengetahuan ibu tentang pemberian MP-ASI pada bayi usia 0-6 bulan di Desa Puncak Wangi dan Kuripan Kecamatan Babat Kabupaten ..............?.


    1. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang pemberian MP-ASI pada bayi usia 0-6 bulan di Desa Puncak Wangi dan Kuripan Kecamatan Babat Kabupaten ...............



    1. Manfaat penelitian

      1. Manfaat Teoritis :

  1. Bagi Peneliti

Dapat menerapkan ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan Akademi Keperawatan Kabupaten .............. khususnya dalam proses penelitian.

  1. Bagi Akademi

Sebagai bahan evaluasi untuk pengelolaan program pembelajaran mata kuliah Anak.

  1. Bagi Tenaga Kesehatan

Sebagai bahan masukan dalam peningkatan kesehatan bayi.


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA


Pada bab 2 ini akan dibahas tentang konsep dasar yang terkait dengan masalah penelitian, antara lain: 1) Pengetahuan, 2) Ibu 3) MP-ASI, 4) Kerangka Konsep.


    1. Konsep Pengetahuan

Konsep pengetahuan ini, penulis mengacu pada pendapat dari Soekidjo Notoatmojo yang dikutip oleh Wahit Iqbal (2007) sebagai berikut :

      1. Pengertian pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengetahuan adalah merupakan hasil mengingat suatu hal, termasuk mengingat kembali kejadian yang pernah dialami baik secara sengaja maupun tidak sengaja dan ini terjadi setelah orang melakukan kontak atau pengamatan terhadap suatu objek tertentu.

      1. Proses Adopsi Perilaku yaitu:

Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan, sebab perilaku ini terjadi akibat adanya paksaan atau aturan yang mengharuskan untuk berbuat. Penelitian Rogers,1974 mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru, didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni:

  1. Kesadaran atau Awarenes, dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus.

  2. Merasa tertarik atau Interest, terhadap stimulasi atau objek tersebut.

  3. Evaluasi atau Evaluation, menimbang-nimbang terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.

  4. Mencoba atau Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Stimulus.

  5. Adopsi atau Adaption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikap terhadap stimulus.

      1. Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu:

  1. Tahu atau Know diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, mengingat kembali atau recall terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan atau rangsangan yang telah diterima.

  2. Memahami atau Comprehension, diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara luas.

  3. Aplikasi atau Aplication, diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi nyata.

  4. Analisis atau Analysis, adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek kedalam komponen-komponen tetapi masih didalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.

  5. Sintesis atau Synthesis, menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

  6. Evaluasi atau Evaluation, ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.

      1. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang:

  1. Pendidikan, pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang pada orang lain terhadap sesuatu hal agar mereka dapat memahami.

  2. Pekerjaan, lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

  3. Umur, dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan pada aspek fisik dan psikologis (mental).

  4. Minat, sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan menekuni suatu hal dan pada akhirnya diperoleh pengetahuan yang lebih mendalam.

  5. Pengalaman, adalah suatu kejadian yang pernah dialami seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

  6. Kebudayaan lingkungan sekitar, kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita.

  7. Informasi, kemudahan untuk memperoleh suatu informasi dapat membantu mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang baru

    1. Konsep Ibu Dalam Keluarga

Menurut Kartini Kartono (1999) keluarga merupakan organisasi terpenting dalam kelompok social keluarga merupakan lembaga paling utama dan paling pertama yang bertanggung jawab ditengah masyarakat dalam menjamin kesejahteraan social dan kelestarian biologis manusia

Sebagian besar anak manusia tumbuh dan berkembang serta didewasakan dalam lingkungan keluarga. Dan sejak masa bayi anak akan menghirup iklim kasih sayang dan loyalitas terhadap ideologi keluarga. Ideologi ini dimulai dengan nama/adat istiadat, tradisi, emosi nilai dan lain sebagainya yang berfungsi sebagai pengikat persatuan dalam keluarga. Hal ini tidak terlepas dari peran ibu sebagai penopang utama kasih sayang dalam keluarga. Sedangkan fungsi utama dari ibu bagi keluarga adalah:

2.2.1 Peran ibu sebagai istri dan teman hidup

Hal ini mencakup sikap hidup yang mantap, bisa mendampingi suami dalam situasi yang bagaimanapun juga. Disertai rasa kasih sayang, kecintaan, loyalitas dan kesetiaan pada pasangan hidupnya, juga mendorong suaminya untuk berkarir dengan cara yang sehat.

2.2.2 Peran ibu sebagai partner seks

Yang mengimplikasikan berbagai hal, sebagai berikut:

1) Terdapatnya hubungan netero-seksual yang memuaskan

2) Tanda adanya disfungsi/gergetan seksual

  1. Ada relasi seksual yang berlebih

4) Tidak hiperseksual, juga tidak kurang

Maka kehidupan seksual yang mapan diakibatkan karena kehidupan psikologi yang sehat, seimbang tanpa adanya konflik batin yang serius dan adanya kesediaan memahami partner serta rela berkorban

2.2.3 Peran sebagai ibu dan mendidik

Sebagai pendidik bagi anak-anaknya bisa terpenuhi dengan baik, bila ibu mampu menciptakan iklim praktis yang sehat, menggembirakan dan bebas, sehingga suasana rumah menjadi semarak dan bisa memberikan rasa aman, bebas, hangat dan menyenangkan yang disertai dengan kasih sayang. Dengan begitu anak dan suami akan betah tinggal di rumah, iklim psikologis yang penuh kasih sayang, kesabaran dan ketenangan akan memberikan semangat pada keluarga terutama anak untuk merangsang tumbuh dewasa secara wajar dan bahagia.

2.2.4 Peran sebagai pengatur rumah tangga

Dalam hal ini terdapat reaksi-reaksi formal dan semacam pembagian kerja, dimana suami bertindak sebagai pencari nafkah. Tetapi yang paling penting adalah pembagian peran dan saling pengertian antara kedua belah pihak.

2.2.5 Peran sebagai partner hidup

Suami pasti akan memerlukan orang yang bisa diajak hidup untuk selamanya, sebagai pendukung karir dan labuhan kebijaksanaan. Dengan begitu akan terlihat kesamaan pandangan, perasaan yang seimbang rupa ada yang disalahkan dan diresahkan.


2.3 Konsep MP-ASI

2.3.1 Pengertian

MP-ASI merupakan makanan lain selain ASI. Makanan ini dapat berupa makanan yang disiapkan secara khusus atau makanan yang dimodifikasi.(Lilian Juwono, 2003). Sedangkan menurut Dep.Kes RI(2007), MP-ASI merupakan makanan peralihan dan dari ASI ke makanan keluarga.

Bertambahnya umur bayi, bartambah pula kebutuhan gizinya, sebab itu sejak umur 6 bulan bayi mulai diberi makanan pendamping ASI (MP-ASI). Selain ASI untuk memenuhi kebutuhan gizi perlu diperhatikan waktu pemberian, frekwensi, porsi, pemilihan bahan makanan, cara pembuatan dan cara pemberian MP-ASI.

2.3.2 Tujuan Pemberian MP-ASI

1) Memenuhi kebutuhan zat gizinya yang meningkat untuk pertumbuhan dan aktivitasnya.

2) Mendidik anak untuk membina selera dan kebiasaan makan yang sehat.

3) Melatih pencernaan bayi agar mampu mencerna makanan yang lebih padat daripada susu. Membiasakan bayi mengkonsumsi makanan sehari-hari menggunakan sendok.

2.3.3 Manfaat MP-ASI

Menurut Diah K dan Rina Y(2000) Manfaat MP-ASI adalah untuk menambah energi dan zat gizi yang diperlukan bayi karena ASI tidak dapat mencukupi kebutuhan bayi secara terus-menerus. Pertumbuhan dan perkembangan anak yang normal dapat diketahui dengan cara melihat kondisi pertambahan berat badan seorang anak tidak mengalami peningkatan, menunjukkan bahwa kebutuhan energi bayi tidak terpenuhi.

2.3.4 Jenis MP-ASI

Menurut Dep.Kes.RI(2007), MP-ASI yang baik adalah terbuat dari bahan makanan segar, seperti tempe, kacang-kacangan, telur ayam, hati ayam, ikan, sayur mayur, dan buah-buahan. Jenis MP-ASI yang dapat diberikan adalah:

  1. Makanan Lumat adalah makanan yang dihancurkan atau disaring tampak kurang merata dan bentuknya lebih kasar dari makanan lumat halus, contoh: bubur susu, bubur sumsum, pisang saring/kerok, pepaya saring, tomat saring dan nasi tim saring.

  2. Makanan Lunak adalah makanan yang dimasak dengan banyak air dan tampak berair, contoh: bubur nasi, bubur ayam, nasi tim dan kentang puri.

  3. Makanan Padat adalah makanan lunak yang tidak nampak berair dan biasanya disebut makanan keluarga, contoh: lontong, nasi tim, kentang rebus dan biscuit.

Saat mendiskusikan makanan yang baik, akan bermanfaat jika kita mulai dengan makanan pokok kemudian memutuskan makanan lain yang akan ditambahkan.

Makanan Pokok adalah dimana semua masyarakat mempunyai makanan pokok. Makanan pokok merupakan makanan utama yang dikonsumsi. Contohnya adalah serealia (misalnya beras, gandum, jagung, padi-padian), umbi-umbian

2.3.5 Syarat-syarat MP-ASI

Menurut Diah K dan Rina Y(2000) syarat-syarat MP-ASI adalah makanan Pendamping ASI harus memenuhi persyaratan khusus tentang jumlah zat-zat gizi yang diperlukan bayi, seperti protein, energi, lemak, vitamin, mineral, dan zat-zat tambahan lainnya. Makanan Pendamping ASI hendaknya mengandung protein bermutu tinggi dengan jumlah yang mencukupi. Sedangkan menurut Lilian Juwono(2004) makanan pendamping ASI yang memenuhi syarat adalah: a) Kaya energi,protein, dan mikronutrien (terutama zat besi,zink, kalsium, vitamin A, vitamin C, dan folat). b) Bersih dan aman, yaitu tidak ada pathogen (tidak ada bakteri penyebab penyakit atau organisme yang berbahaya lainnya), tidak ada bahan kimia yang berbahayaatau toksin, tidak ada potongan tulang atau bagian yang keras atau yang membuat anak tersedak, tidak terlalu panas. c) Tidak terlalu pedas atau asin. d) Mudah dimakan oleh anak. e) Disukai anak. f) Tersedia di daerah anda dan harganya terjangkau. g) Mudah disiapkan.

2.3.6 Waktu Pemberian MP-ASI

Makanan tambahan diberikan setelah masa ASI eksklusif untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan energi, yang tidak lagi terpenuhi dari ASI saja. Di masa penyapihan ini bayi akan mendapatkan ASI, buah, biscuit bayi, bubur bayi dan lebih lanjut akan mendapat nasi tim. Prinsip pemberian makanan pada bayi usia 0 sampai 6 bulan hingga 1 tahun adalah peralihan bertahap dari hanya ASI hingga mencapai pola makan dewasa. Perubahan terjadi di dalam hal tekstur (halus hingga kasar), konsistensi (lunak hingga padat), porsi dan frekwensinya sesuai dengan kemampuan dan perkembangan bayi. Tahapan pemberian makanan pendamping ASI yang ideal adalah mulai usia 6 bulan.

Makanan tambahan harus mulai diberikan ketika bayi tidak lagi mendapat cukup energi dan nutrisi dari ASI saja. Untuk kebanyakan bayi, makanan tambahan mulai diberikan pada usia 6 bulan keatas. Pada usia ini otot dan syaraf didalam mulut bayi cukup berkembang untuk mengunyah, menggigit dan memamah. Sebelum usia 6 bulan, bayi akan mendorong makanan keluar dari mulutnya karena mereka tidak dapat mengendalikan gerakan lidahnya secara penuh. pada usia 6 bulan lebih mudah untuk memberikan bubur kental, sup kental dan makanan yang dilumatkan, karena anak:

  1. dapat mengendalikan lidahnya lebih baik

  2. Mulai melakukan gerak mengunyah keatas dan kebawah.

  3. Mulai tumbuh gigi.

  4. Suka memasukkan sesuatu kedalam mulutnya.

  5. Berminat terhadap rasa yabg baru.

Ada beberapa tanda kesiapan yang menunjukkan seorang bayi telah mampu menerima makanan pendamping pertamanya:

    1. Kesiapan Fisik

    1. Telah berkurang / hilangnya refleks menjulurkan lidah.

    2. Kemampuan motorik mulut tidak hanya mampu menghisap, namun juga mampu menelan makanan setengah padat.

    3. Dapat memindahkan makanan dalam mulut menggunakan lidah.

    4. Dapat mempertahankan posisi kepala secara stabil, tanpa bantuan.

    5. Dapat diposisikan duduk dan mampu mempertahankan keseimbangan badan.

    1. Kesiapan psikologis

      1. Perilaku yang semula hanya bersifat refleks dan imitative menjadi lebih independent dan mampu bereksplorasi.

      2. Menunjukkan Keinginan makan dengan membuka mulut, dan menunjukkan rasa lapar dengan mencondongkan badan ketika disodori makanan.

      3. Sebaliknya, mampu menjauhkan badan ketika telah merasa kenyang

Pada usia ini juga system pencernaan sudah cukup matang untuk mencerna berbagai makanan.

Memulai pemberian makanan tambahan terlalu dini atau terlalu lambat, keduanya tidak diinginkan. Tanda bahwa seorang anak sudah siap untuk menerima makanan tambahan adalah bahwa anak tersebut: 1) Sekurangnya usia 6 bulan, 2) Sering mendapat ASI tapi tampak lapar segera sesudahnya, 3)Tidak mengalami penambahan berat badan yang adekuat.

Seorang anak harus diberi ASI saja sekurang-kurangnya sampai usia 6 bulan (Lilian Juwono,2004)

2.3.7 Pemberian MP-ASI pada bayi diberikan secara bertahap. Adapun jenis makanan dan frekwensi MP-ASI menurut umur bayi sesuai tabel dibawah ini.

Tabel 2.1 Jadwal Pemberian Makanan Pendamping ASI Menurut Umur Bayi, Jenis Makanan Dan Frekwensi.


Umur Bayi

Jenis Makanan

Berapa Kali Sehari

1

2

3

0 – 6 bulan





- ASI

Setiap bayi menginginkan sedikitnya 8 kali sehari 890-950 ml/hari


6 – 9 bulan












1


9 – 12 bulan














    • Bubur susu






    • Bubur tim lumat






2


- Bubur nasi




    • Nasi tim





- Nasi lembek




    • 6 bulan : pagi dan sore hari, 3 sendok makan


    • 7 bulan : pagi dan sore hari, 3 ½ sendok makan


    • 8 bulan : pagi 2 sendok makan, siang dan malam hari, 3 sendok makan



3


    • 9 bulan : pagi, siang dan malam hari, 3 sendok makan


    • 10 bulan : pagi dan siang hari 3 sendok makan, malam hari 4 sendok makan


    • 11 bulan : pagi hari 3 sendok makan, siang dan malam hari 4 sendok makan

Sumber : DepKes RI, 2009 : 35-38

2.3.8 Cara Pemberian MP-ASI

Setelah bayi berusia 6 bulan perkenalkan ke makanan yang padat atau dicincang halus (Annie Yelland, 2005) seperti:

  1. Daging ayam yang dihaluskan

  2. Kacang-kacangan yang dihaluskan

  3. Yogurt:Tanpa pemanis yang biasanya disukai bayi atau tambahkan buah segar cincang

  4. Kembang kol denagn keju

  5. Nasi

  6. Ikan, buang tulang lalu cincang atau haluskan.

Pemberian MP-ASI pada bayi usia 6 sampai 9

  1. Penyerapan vitamin A dab zat gizi lain pemberian ASI diteruskan

  2. Pada umur 6 bulan alat cerna sudah lebih berfungsi, oleh karena itu bayi mulai diperkenalkan dengan MP-ASI lumat 2 kali sehari.

  3. Untuk mempertinggi nilai gizi makanan, nasi tim bayi ditambah sedikit demi sedikit dengan sumber lemak, yaitu santan atau minyak kelapa/margarin. Bahan makanan ini dapat menambah kalori makanan bayi, memberikan rasa enak juga mempertinggi yang larut dalam lemak.

Pemberian makanan bayi umur 9 sampai 12 bulan

  1. Pada umur 10 bulan bayi mulai diperkenalkan dengan makanan keluarga secara bertahap. Bentuk dan kepadatan nasi tim bayi harus diatur secara berangsur mendekati makanan keluarga.

  2. Berikan makanan selingan satu kali sehari. Pilihlah makanan selingan yang bernilai gizi tinggi, seperti bubur kacang hijau dan buah. Usahakan makanan selingan dibuat sendiri agar kebersihannya terjamin.

  3. Bayi perlu diperkenalkan dengan beraneka ragam makanan. Campurkanlah kedalam makanan lembek sebagai lauk pauk dan sayuran secara bergantian. Pengenalan berbagai bahan makanan sejak dini akan berpengaruh baik terhadap kebiasaan makan yang sehat di kemudian hari.

Pemberian makanan bayi umur 12 sampai 24 bulan

  1. Pemberian ASI diteruskan.

  2. Pemberian MP-ASI atau makanan keluarga sekurang-kurangnya tiga kali sehari dengan porsi separuh makanan orang dewasa setiap kali makan. Selain itu tetap berikan makanan selingan dua kali sehari.

  3. Fariasi makanan diperhatikan dengan menggunakan padanan bahan makanan, misalnya nasi diganti tahu, tempe, kacang hijau, telur atau ikan. Bayam dapat diganti dengan daun kangkung, wortel dan tomat. Bubur susu dapat diganti dengan bubur kacang hijau, bubur sumsum dan biscuit.

4) Menyapih anak harus bertahap, jangan dilakukan secara tiba-tiba. Kurangi frekwensi pemberian ASI sedikit demi sedikit.

2.3.8 Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian MP-ASI terlalu dini.

Menurut WHO (2003) Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian MP-ASI terlalu dini adalah:

1) Faktor internal meliputi : Pengetahuan ibu tentang MP-ASI dan Pengalaman.

2) Faktor eksternal meliputi : Sosial budaya, Perawat atau petugas kesehatan lainnya, Informasi tentang pemberian MP-ASI.

2.4 Kerangka Konsep

Kerangka Konsep adalah obstruksi dari suatu realita agar dapat dikomunikasikan dan membentuk suatu teori yang menjelaskan keterkaitan antara variable yang diteliti maupun yang tidak diteliti. (Nursalam, 2003)

Dalam hal ini dibahas kerangka konsep penelitian Gambaran Tentang Pengetahuan Ibu Dengan Pemberian MP-ASI Pada Bayi Usia 0-6 bulan.

Pendididkan


Pekerjaan

Peran Tenaga Kesehatan


Umur

Pemberian MP- ASI secara dini pada bayi usia 0 - 6 bulan


Minat

Pengetahuan


Pengalaman

Peran keluarga


Kebudayaan


Informasi




Keterangan :

: yang diteliti

: tidak diteliti


Gambar 2.4 : Kerangka Konsep Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Pemberian MP-ASI pada bayi usia 0 - 6 bulan di Desa Puncak Wangi dan Kuripan Kecamatan Babat Kabupaten .............. 2010.


Faktor pendidikan, pekerjaan, umur, pengalaman, minat, pengalaman, kebudayaan, informasi mempengaruhi pengetahuan. Sedangkan pengetahuan peran petugas kesehatan, dan peran keluarga berpengaruh langsung pada pemberian MP-ASI pada bayi umur 0 – 6 bulan.

BAB 3

METODE PENELITIAN


Metode penelitian merupakan urutan langkah dalam melakukan penelitian keperawatan (Aziz Alimul, 2007 : 25). Pada bab ini akan disajikan tentang metode penelitian yang terdiri dari : desain penelitian, lokasi dan waktu penelitian, kerangka kerja, populasi, sampel dan samping, identifikasi variabel, definisi operasional, pengumpulan data dan analisa data, masalah etik dalam penelitian.

3.1 Desain Penelitian

Desain penelitian pada dasarnya merupakan strategi untuk mendapatkan data yang dibutuhkan untuk keperluan pengujian hipotesis atau untuk menjawab pertanyaan penelitian serta sebagai alat untuk mengontrol atau mengendalikan berbagai variabel yang berpengaruh dalam penelitian (Nursalam, 2009 : 78).

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan mendeskripsikan atau memaparkan peristiwa yang penting terjadi pada masa kini dan lebih menekankan pada data aktual daripada penyimpulan (Nursalam, 2009). Dalam penelitian ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang pemberiam MP-ASI pada bayi umur 0-6 bulan.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Desa Puncak Wangi dan Kuripan Kecamatan Babat Kabupaten ...............

3.2.2 Waktu Penelitian

Waktu Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2010. Secara lengkap terdapat dalam rencana kegiatan.


3.3 Kerangka Kerja

Kerangka kerja merupakan bagian terhadap rancangan kegiatan penelitian yang akan dilakukan, meliputi suatu yang akan diteliti atau obyek penelitian, variabel yang akan diteliti dan variabel yang mempengaruhi dalam penelitian (A.Aziz Alimul. H, 2003:34)

Kerangka kerja dalam penelitian ini adalah:

Populasi: Keseluruhan ibu yang mempunyai bayi usia 0-6 bulan di Desa Puncak Wangi dan Kuripan Kecamatan Babat Kabupaten .............. bulan Mei 2010 sejumlah 36 ibu



Sampling adalah Purposive sampling



Sampel: Ibu yang mempunyai bayi usia 0-6 bulan di Desa Puncak Wangi dan Kuripan Kecamatan Babat Kabupaten .............. bulan Mei 2010 sejumlah 29 Ibu



Desain penelitian adalah Deskriptif





Variabel : Pengetahuan Ibu Tentang Pemberian MP-ASI pada bayi umur 0-6 bulan




Pengumpulan data adalah dengan kuesioner tertutup





Pengolahan data dengan editing, coding, scoring, dan tabulating





Penarikan kesimpulan



Gambar 3.1: Kerangka Kerja Penelitian Gambaran Pengetahuan Ibu tentang pemberian MP-ASI pada bayi umur 0-6 bulan di Desa Puncak Wangi dan Kuripan Kecamatan Babat Kabupaten .............. Tahun 2010


3.4 Populasi, Sampel dan Sampling

3.4.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Aziz Alimul, 2007:67). Pada penelitian ini populasinya adalah seluruh ibu yang mempunyai anak usia 0-6 bulan di Desa Puncak Wangi dan Kuripan Kecamatan Babat Kabupaten .............. sejumlah 36 ibu.

3.4.2 Sampel

Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Aziz Alimul, 2007: 68). Pada penelitian ini sampel yang diambil dari sebagian ibu yang mempunyai bayi umur 0-6 bulan yang diberi MP-ASI di Desa Puncak Wangi dan Kuripan Kecamatan Babat Kabupaten .............. sejumlah 29 ibu.

Kriteria inklusi adalah karakteristik subyek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau yang akan diteliti (Nursalam, 2009: 92). Pada penelitian ini kriteria inklusinya adalah Ibu yang bersedia untuk diteliti dan menandatangani inform consent.

3.4.3 Sampling

Sampling adalah suatu proses menyeleksi porsi dalam populasi untuk mewakili populasi (Nursalam, 2009 : 93). Tehnik sampling adalah cara yang ditempuh dalam pengambilan sampel, agar memperoleh sampel yang benar-benar sesuai dengan keseluruhan subyek penelitian. Dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah nonprobability sampling dengan cara purposive sampling yaitu suatu cara pengambilan sample dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki peneliti, sehingga sampel dapat mewakili karakteristik populasi yang dikenal sebelumnya ( Nursalam, 2009 )

3.5 Identifikasi Variabel

Identifikasi variabel merupakan bagian penelitian dengan cara menentukan variable-variabel yang ada dalam penelitian seperti variabel independent, dependent, moderator kontrol, dan intervening (Aziz Alimul, 2007: 34). Variabel adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda terhadap sesuatu misalnya benda, manusia.

( Nursalam, 2009 : 97). Variable dalam penelitian ini adalah variable tunggal yaitu Pengetahuan ibu tentang pemberian MP-ASI pada bayi umur 0-6 bulan.

3.5.2 Definisi Operasional

Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu obyek atau fenomena (Nursalam, 2009 : 160)

Tabel 3.1 : Definisi Operasional Gambaran Pengetahuan Ibu tentang pemberian MP-ASI secara pada bayi usia 0-6 bulan di Desa Puncak Wangi dan Kuripan Kecamatan Babat Kabupaten .............. Tahun 2010.


Variabel

Definisi

Operasional

Indikator

Alat

ukur

Skala

Skor

Variabel Independen Pengetahuan Ibu tentang MP-ASI







Kemampuan ibu dalam menjawab pertanyaan tentang MP-ASI







Parameter yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pengetahuan ibu tentang:

1. Pengertian MP-ASI.

2. Tujuan dan Manfaat MP-ASI.

3. Jenis MP-ASI.

4. Waktu pemberian MP-ASI.

5. Bahaya pemberian MP-ASI pada waktu yang kurang tepat

Kuesioner






1


2-3


4-5

6-10


11-13

Ordinal











Untuk pertanyaan positif:

Benar: skor 1

Salah: skor 0

Untuk pertanyaan negative :

Benar: skor 0

Salah: skor 1

Kategori Baik:

76-100%

Kategori sedang:

56-75%

Kategori kurang: ≤55%




3.7 Pengumpulan Data dan Analisa Data

3.7.1 Proses Pengumpulan Data

Setelah mendapatkan izin dari pihak yang terkait diantaranya adalah Direktur Akademi Keperawatan .............. dan Kepala Desa Puncak Wangi dan Kuripan Kecamatan Babat Kabupaten .............., selanjutnya peneliti melakukan pendekatan terhadap responden yang menjadi subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi.

3.7.2 Instrumen dan Prosedur Pengumpulan Data

Instrumen adalah suatu alat yang digunakan untuk mengatur apa yang seharusnya diukur (Nursalam, 2009:103). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup dengan model dichotomy question yang berisi rincian dimana responden tinggal memberikan jawaban ya atau tidak dengan tanda tertantu.

      1. Analisa Data

Setelah data terkumpul dilakukan penyuntingan data dan koding, teknik pemberian skor pada variabel ini adalah jika pertanyaan positif, jawaban benar diberi nilai 1 dan jawaban salah diberi nilai 0, sedangkan pertanyaan negatif, jawaban benar diberi nilai 0 dan jawaban salah diberi nilai 1, setelah jawaban terkumpul, Menurut (Suharsimi Arikunto,1998: 246) jawaban kemudian dinilai dengan menggunakan

Rumus:




Dimana : P : proporsi

f : jumlah jawaban yang benar

N : jumlah skor maksimal, jika pertanyaan dijawab benar

Setelah data ditabulasi kemudian diprosentase, dan hasilnya diklasifikasikan ke dalam kategori Pengetahuan:

  1. Kategori baik 76- 100%, dengan jumlah jawaban yang benar 10-13 soal

  2. Kategori sedang : 56-75%, dengan jumlah jawaban yang benar 8-9 soal

  3. Kategori kurang : 55%, dengan jumlah jawaban yang benar 0-7 soal

Hasil prosentase kemudian di inteprestasikan dengan modifikasi kesimpulan menurut kriteria Suharsimi Arikunto (1998:246), sebagai berikut :

    1. 100% : Seluruhnya

    2. 76-99% : Hampir seluruhnya

    3. 51-75% : Sebagian besar

    4. 50% : Setengahnya / sebagian

    5. 26-49% : Hampir setengahnya / hampir sebagian

    6. 1-25% : Sebagian kecil

    7. 0% : Tidak satupun


3.8 Etika Penelitian

Penelitian apapun khususnya yang menggunakan manusia sebagai subyek tidak boleh bertentangan dengan etika. Oleh karena itu setiap penelitian yang menggunakan subyek harus mendapatkan persetujuan dari subyek yang diteliti dan institusi tempat penelitian yang meliputi :


3.8.1 Informet Consent atau Persetujuan Responden

Saat pengambilan sampel terlebih dahulu peneliti meminta izin kepada setiap obyek yang akan diteliti baik secara lisan maupun melalui lembar persetujuan atas kesediaannya dijadikan obyek penelitian.

3.8.2 Anonimity atau Tanpa Nama

Untuk menjaga kerahasiaan identitas subyek penelitian tidak mencantumkan namanya pada lembar pengumpulan data atau kuesioner, cukup dengan memberi nomor kode pada lembar tersebut.

3.8.3 Confidentiality atau Kerahasiaan

Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh obyek dijamin oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu saja yang akan disajikan untuk dilaporkan sehingga rahasia tetap terjaga.





BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Pada bab ini akan disajikan mengenai hasil pengumpulan data dari 29 responden yaitu ibu yang mempunyai anak usia 0-6 bulan di Desa Puncakwangi dan Desa Kuripan Kecamatan Babat Kabupaten .............. tanggal 16-17 mei 2010. Penyajian data meliputi data umum dan data khusus. Data umum terdiri dari gambar lokasi penelitian dan karakteristik responden yang meliputi usia ibu, pendidikan, pekerjaan, penyuluhan dan umur bayi, sedangkan data khusus akan disajikan tentang gambaran pengetahuan ibu tentang pemberian MP-ASI pada bayi umur 0-6 bulan di Desa Puncak Wangi dan Kuripan

4.1 .Hasil Penelitian

  1. Data Umum

1) Gambaran Lokasi Penelitian

Peneletian ini dilakukan di desa Puncakwangi dan desa Kuripan Kecamatan Babat Kabupaten ............... Jumlah penduduk Desa Puncakwangi 1990 jiwa, 521 KK, terdiri dari Wanita Usia Subur 227 jiwa, jumlah balita 72 dan jumlah bayi 18. terdapat 1 Pustu dengan 4 tenaga kesehatan yang terdiri dari 1 dokter umum, 2 perawat dan 1 bidan, dan posyandu balita dilaksanakan tiap satu bulan sekali. Desa Puncakwangi berbatasan dengan sebelah utara dengan Desa Sogo, sebelah selatan dengan Desa Gunung Rejo, sebelah barat Desa Karang Kembang dan sebelah timur dengan Desa Gendong Kulon. Luas wilayah 186,018 Ha. Sedangkan Desa Kuripan jumlah penduduk sebanyak 1725 jiwa, 312 KK, terdiri dari WUS sebanyak 167 jiwa, jumlah balita 56 dan jumlah bayi sebanyak 12. terdapat 1 Pustu dengan 3 tenag kesehatan yang terdiri dari 1 dokter, 1 perawat, dan 1 bidan, dan posyandu balita dilaksanakan tiap satu bulan sekali. Desa Kuripan berbatasan dengan sebelah utara Desa Buluterate, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Sumengko, sebelah barat Desa Gendong Kulon dan sebelah timur Desa Dalem. Luas wilayah Desa Kuripan 178,119 Ha.

2) Karakteristik Responden

(1) Umur

Umur responden dari hasil pengumpulan data adalah sebagai berikut :

Tabel 4.1 Distribusi Umur Ibu Bayi di Desa Puncakwangi dan Desa Kuripan Kecamatan Babat Kabupaten .............. Bulan Tahun 2010

No

Umur

Jumlah

Persentase (%)

1

2

20-35 Tahun

>35-50 Tahun

23

6

79,3

20,7

Jumlah

29

100


Tabel di atas menunjukkan bahwa hampir seluruh ibu berusia 20-35 tahun yaitu 23 (79,3%).

(2) Pekerjaan

Pekerjaan responden dari hasil pengumpulan data adalah sebagai berikut:

Tabel 4.2 Distribusi Pekerjaan Ibu Bayi di Desa Puncakwangi dan Desa Kuripan Kecamatan Babat Kabupaten .............. Bulan Mei Tahun 2010

No

Pekerjaan

Jumlah

Persentase (%)

1

2

3

4

Tidak Bekerja

PNS

Swasta

Petani

9

5

12

3

31,0

17,3

41,4

10,3

Jumlah

29

100

Tabel di atas menunjukkan bahwa hampir sebagian bekerja sebagai pegawai swasta yaitu 12 (41,4%).

(3) Pendidikan

Pendidikan ibu bayi dari hasil pengumpulan data adalah sebagai berikut :

Tabel 4.3 Distribusi Pendidikan Ibu Bayi di Desa Puncakwangi dan Desa Kuripan Kecamatan Babat Kabupaten .............. Bulan Mei Tahun 2010

No

Pendidikan

Jumlah

Persentase (%)

1

2

3

4

SD

SMP

SMA

PT

5

4

17

3

17,2

13,8

58,7

10,3

Jumlah

29

100


Tabel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar ibu bayi berpendidikan SMA yaitu 17 (58,6%).

(4) Penyuluhan

Berdasarkan penyuluhan yang telah diberikan kepada ibu dari hasil pengumpulan data didapatkan hasil sebagai berikut berikut :

Tabel 4.4 Distribusi Ibu Bayi Berdasarkan Penyuluhan Yang pernah Didapat di Desa Puncakwangi dan Desa Kuripan Kecamatan Babat Kabupaten .............. Tahun 2010

No

Penyuluhan

Jumlah

Persentase (%)

1

2

Pernah diberi penyuluhan

Tidak pernah diberi penyuluhan

4

25

13,8

86,2

Jumlah

29

100


Tabel di atas menunjukkan bahwa hampir seluruh ibu bayi tidak pernah mendapatkan penyuluhan yaitu 25 (86,2%).


(5) Umur Bayi

Berdasarkan umur bayi didapatkan hasil sebagai berikut berikut :

Tabel 4.5 Distribusi Umur Bayi 0-6 Bulan Di Desa Puncakwangi dan Desa Kuripan Kecamatan Babat Kabupaten .............. Bulan Mei Tahun 2010.

No

Umur Bayi

Jumlah

Persentase (%)

1

2

3

0 – 2 bulan

> 2 – 4 bulan

> 4 – 6 bulan

2

13

14

6,9

44,8

48,3

Jumlah

29

100


Tabel di atas menunjukkan bahwa hampir sebagian bayi berusia > 4-6 bulan yaitu 14 (48,3%).


      1. Data Khusus

Pada bagian ini akan disajikan pengetahuan tentang pemberian MP-ASI pada bayi umur 0-6 bulan.

Tabel 4.6 Distribusi Pengetahuan Ibu tentang MP-ASI di Desa Puncakwangi dan Desa Kuripan Kecamatan Babat Kabupaten .............. Bulan Mei Tahun 2010.

No

Pengetahuan

Jumlah

Persentase (%)

1

2

3

Baik

Sedang

Kurang

8

9

12

27,6

31,0

41,4

Jumlah

29

100


Berdasarkan tabel 4.5 dapat dilihat hampir sebagian yaitu 12 (41,4%) responden mempunyai pengetahuan baik tentang MP-ASI.





    1. Pembahasan

  1. Pengetahuan Ibu tentang MP-ASI

Hasil penelitian di Desa Puncakwangi dan Desa Kuripan Kecamatan Babat Kabupaten .............. dari 29 responden didapatkan hasil hampir sebagian besar ibu mempunyai pengetahuan kurang tentang MP-ASI. Hal ini disebabkan karena faktor umur, pekerjaan, pendidikan, dan penyuluhan.

Menurut Wahid Iqbal (2007) salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah umur. Dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan aspek fisik dan psikologis (mental). Berdasarkan tabel 4.1 didapatkan hampir seluruh ibu berumur 20-35 tahun. Dimana pada usia tersebut terbentuk usia dewasa. Apabila umur bertambah maka akan lebih banyak informasi yang didapat serta pengalaman yang didapat juga lebih banyak. Namun pada kenyataannya banyak yang memiliki pengetahuan kurang. Hal itu disebabkan karena tidak diimbangi dengan inadekuatnya informasi yang didapat.

Selain umur, faktor lain yang mempengaruhi ibu yang memiliki pengetahuan kurang adalah pekerjaan. Tabel 4.2 menunjukkan hampir sebagian ibu bekerja di bidang swasta dimana ibu yang bekerja di luar rumah dapat memperoleh hal baru dan mencari informasi tentang pemberian MP-ASI, yang mana orang yang bekerja diluar rumah bisa saling bertukar pengalaman atau pengetahuan dengan orang lain. Pengalaman dan pengetahuan yang didapat akan lebih berfariasi sehingga ibu tidak akan memberikan MP-ASI secara dini pada bayinya. Sebaliknya jika seseorang yang tidak bekerja akan lebih sering di rumah, maka informasi yang didapatkan semakin sedikit sehingga pengetahuan ibu kurang tentang MP-ASI.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi pengetahuan adalah pendidikan. Tabel 4.3 menunjukkan bahwa sebagian besar ibu berpendidikan SMA. Dimana pendidikan adalah upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu maupun kelompok masyarakat, sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan (Soekidjo Notoatmodjo, 2007). Dari pendapat tersebut bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan responden diharapkan makin mudah pula responden dalam menerima pengetahuan yang dimiliki dan sebaliknya jika pengetahuan kurang akan menghambat sikap seseorang terhadap nilai baru yang diperkenalkan.

Selain faktor di atas, penyuluhan juga dapat mempengaruhi pengetahuan. Pada tabel 4.4 menunjukkan bahwa hampir seluruh ibu tidak pernah mendapat penyuluhan. Penyuluhan tentang MP-ASI sangat penting bagi ibu. Karena jika sering dilakukan penyuluhan maka ibu akan memilki pengetahuan yang baik tentang MP-ASI. Sedangkan apabila ibu tidak pernah mendapat penyuluhan maka bisa dipastikan ibu akan mengalami ketidaktahuan dari semua hal termasuk tentang pemberian MP-ASI secara tepat. Dimana pemberian MP-ASI secara dini akan menyebabkan gangguan pencernaan pada bayinya, seperti diare. Penyuluhan didapat dari petugas kesehatan. Hal ini sesuai pernyataan dari Herawani (2001) bahwa penyuluhan pada dasarnya sekumpulan pendidikan yang mendorong kebiasaan, sikap dan pengetahuan yang berhubungan dengan ras, masyarakat. Sehingga bila informasi tidak adekuat, maka tidak akan timbul pula suatu pengetahuan yang adekuat.

Tabel 4.6 didapatkan hampir sebagian ibu mempunyai pengetahuan kurang. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh dari mata dan telinga. Semakin tinggi pengetahuan maka ibu akan memberikan MP-ASI secara tepat pada bayinya. Begitu juga sebaliknya semakin rendah pengetahuan bisa menyebabkan ibu memberkan MP-ASI secara dini dimana akan terjadi resiko gangguan pencernaan pada bayinya. Dengan demikian makin banyak mereka mendengar, melihat, merasakan terlebih ia mau mencobanya, maka ia akan memperoleh banyak pengetahuan tetapi apabila ia tidak pernah sama sekali melakukan upaya untuk merasakan atau melihat dan mendengar tentang informasi penting, maka ia dipastikan akan mengalami ketidaktahuan dari semua hal termasuk tentang pemberian MP-ASI. Menurut Soekodjo Notoatmidjo (2007) pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.













BAB 5

PENUTUP


    1. Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan: hampir sebagian ibu berpengetahuan kurang tentang pemberian MP-ASI pada bayi umur 0-6 bulan.

    1. Saran

Dengan melihat hasil kesimpulan di atas, maka saran dari peneliti yakni sebagai berikut:

      1. Bagi orang tua

Diharapkan orang tua dapat meningkatkan pengetahuannya tentang pemberian MP-ASI pada bayi umur 0-6 bulan.

5.2.2.Bagi institusi pelayanan kesehatan

Diharapkan instansi pelayanan kesehatan dapat memberi masukan informasi dan memfasilitasi penyuluhan-penyuluhan pada orang tua tentang pemberian MP-ASI pada bayi usia 0-6 bulan.

5.2.3 Bagi Tenaga Kesehatan

Diharapkan dapat meningkatkan peranya dalam memberikan health education yang tepat tentang pemberian MP-ASI pada bayi usia 0-6 bulan

DAFTAR PUSTAKA


A. Aziz Alimul H, (2007), Metodologi Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisis Data, Jakarta : Salemba Medika


Agus Susanto, (2007), Waspasai Gigitan Nyamuk, Jakarta : PT Sunda Kelapa Pustaka

Dep Kes RI, (2009), Buku Kesehatan Ibu dan Anak, Jakarta : Departemen Kesehatan


Donna L. Wong, (2008), Buku Ajar Keperawatan Pediatrik, Volume 1, Edisi 6, Jakarta : EGC

Herawani, (2001), Pendidikan Perawatan Dalam Kesehatan, Jakarta : ECG


Nursalam, (2005), Asuhan Keperawatan Bayi Dan Anak, Edisi Pertama, Jakarta : Salemba Medika


Nursalam, (2009), Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Edisi Kedua, Jakarta : Salemba Medika


Soegeng Soegijanto, (2002), Ilmu Penyakit Anak, Diagnosa Dan Penatalaksanaan, Edisi Pertama, Jakarta : Salemba Medika


Soekidjo Notoatmojo, (2007), Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Jakarta : Rineka Cipta


Suharsimi Arikunto (1998), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta : Rineka Cipta


Sulianti Saroso, (2007), Demam Berdarah Dengue, http:// www.Pusat Penelitian Penyakit Infeksi.Com (Diakses tanggal 18 Februari 2010 pukul 19.15 WIB)


Suprajitno, (2004), Asuhan Keperawatan Keluarga, Jakarta : EGC


Suriadi Dan Rita Yulianni, (2006), Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi 2, Jakarta : Sagung Seto


Thomas C. Timmreck, (2008), Epidemiologi,Suatu Pengantar, Edisi 3,Jakarta : EGC


Wasis, (2007), Pedoman Riset Praktis, Jakarta : EGC


Widoyono, (2008), Penyakit Tropis : Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan Pemberantasanya, Jakarta : Erlangga


Yupi Supartini, (2004), Konsep Dasar Keperawatan Anak, Jakarta : EGC


Wahid Iqbal, (2007), Pengantar Riset Keperawatan Komunitas, Jakarta: CV Sagung Seto.