Jumat, 13 Mei 2011

Hubungan antara peran keluarga dan tingkat kecemasan Ibu hamil untuk melakukan hubungan sexual selama kehamilan trimester III

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada manusia sexualitas dapat dipandang sebagai pencetus dari hubungan antara individu, dimana daya tarik rohaniah dan badaniah atau psikofisik menjadi dasar kehidupan bersama antara 2 insan manusia (Hanifa Wiknjosastro, 1999:589).

Menurut A. Maslow dikutip oleh Soekidjo Notoatmodjo (2003:500, mengemukakan bahwa kebutuhan manusia terdiri dari 5 tingkat, yaitu kebutuhan fisik, keamanan, pengalaman dari orang lain, harga diri dan perwujudan diri. Maslow juga mengungkapkan bahwa kebutuhan manusia yang paling dasar harus terpenuhi dahulu sebelum seseorang mampu mencapai kebutuhan yang lebih tinggi tingkatannya. Salah satu dari kebutuhan fisik atau kebutuhan yang paling dasar tersebut adalah sexual. Kebutuhan sexual juga harus diperhatikan bagaimana cara pemenuhannya seperti halnya dengan kebutuhan fisik lainnya, meskipun seseorang dalam keadaan hamil.

1

Walaupun sebenarnya sexual dianggap tabu untuk dipelajari, tetapi perlu juga diperhatikan bagaimana cara pemenuhannya, karena apabila kebutuhan yang bersifat fisiologis dan dasar tersebut tidak dipenuhi akan menyebabkan masalah psikis pada ibu hamil dan pasangannya atau bahkan bisa sebagai pemicu keretakan dan kehidupan rumah tangga bahkan perceraian. Masalah psikis yang terjadi pada ibu hamil tersebut juga bisa mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jiwa janin, karena hubungan antara ibu dengan janin dihubungkan melalui Uteroplasental.

Pada umumnya pasangan suami istri yang tidak berani melakukan hubungan sexual pada saat hamil adalah disebabkan karena rasa cemas. Menurut pandangan mereka apabila melakukan hubungan sexual pada saat hamil akan mempengaruhi janin yang sedang dikandung dan akan menyebab-kan bahaya bagi ibu.

Survey awal pada 34 ibu hamil di desa Sendang Agung kecamatan Paciran Kabupaten .................., didapatkan 31 ibu hamil atau 91,17 % tidak melakukan hubungan sexual saat hamil trimester III yang disebabkan rasa cemas terhadap kondisi janinya, dan 4 lainnya melakukan hubungan sexual pada kehamilan trimester III. Dengan demikian masalah penelitian adalah masih banyak ibu hamil Trimester III tidak melakukan hubungan sexual. Adapun faktor yang dapat mempengaruhi ibu hamil Trimester III tidak melakukan hubungan sexual antara lain: peran keluarga, pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, tenaga kesehatan, dan sosial budaya.

Sebagai faktor pertama yaitu peran keluarga. Peran keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu (Nasrul Effendy,1998:34). Peran keluarga yang mendukung ibu hamil untuk berhubungan sexual selama kehamilan trimester III, maka kemungkinan ibu

hamil akan menerapkan hal tersebut sesuai anjuran keluarga. Sebaliknya pada ibu hamil yang mendapat larangan dari keluarganya untuk tidak melakukan hubungan sexual selama masa kehamilan, meskipun ibu hamil tersebut sudah mendapat informasi dari tenaga kesehatan.

Pengetahun adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yaitu indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. (Soekidjo Notoatmodjo, 2003:121). Semakin tinggi pengetahuan ibu hamil tentang hubungan sexual pada kehamilan trimester III, maka kemungkinan akan dimanifestasikan melalui hubungan yang wajar sesuai dengan yang dianjurkan tanpa mengalami perubahan dalam hubungan sexual. Sebaliknya bagi ibu hamil yang memiliki pengetahuan rendah, kemungkinan mereka akan sulit untuk menyesuaikan hal tersebut dimasa kehamilannya, terutama bagi yang menganggap bahwa sexual merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan atau dipelajari.

Faktor yang bisa mempengaruhi selanjutnya adalah pendidikan ibu hamil. Pendidikan didefinisikan sebagai segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan (Soekidjo Notoatmodjo, 2003:16). Semakin tinggi tingkat pendidikan ibu hamil, maka kemungkinan semakin mudah mereka memperoleh dan menangkap informasi yang diberikan yang bersifat positif. Begitu juga sebaliknya semakin rendah tingkat pendidikan ibu hamil, maka kemungkinan sulit bagi mereka untuk menangkap informasi maupun ide termasuk tentang hubungan sexual selama kehamilan trimester III yang diperbolehkan.

Pekerjaan juga mempengaruhi pola hubungan sexual pada ibu hamil. Pekerjaan adalah suatu perbuatan yang dilakukan untuk mencari nafkah (Dessy Anwar, 2001:234). Ibu hamil yang bekerja sebagai wanita karir, mereka kemungkinan akan sibuk dengan pekerjaannya dari pada memikirkan aktivitas sexualnya. Sebaliknya ibu hamil yang tidak memiliki pekerjaan atau aktivitas sehari-harinya hanya sebagai ibu rumah tangga, maka kemungkinan mereka mempunyai waktu yang lebih luang untuk memikirkan aktivitas sexualnya.

Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdi diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau ketrampilan melalui kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan (Djoko Wijono, 1999:1314). Semakin tinggi kepedulian tenaga kesehatan, terutama dalam berperan sebagai educator dalam memberikan pendidikan kesehatan tentang hubungan sexual selama kehamilan trimester III pada ibu hamil dan pasangannya, maka kemungkinan akan diterapkan dimasa kehamilannya. Sebaliknya bila tenaga kesehatan kurang memberikan pendidikan mengenai hubungan sexual selama kehamilan trimester III, maka ibu hamil akan ragu untuk menerapkan hal tersebut dimasa kehamilannya.

Menurut Djoko Widagdho (2001:19), sosial budaya adalah sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk budi-daya, budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa tersebut. Bagi pasangan yang tinggal di perkotaan dengan budaya yang modern dan banyak memperoleh informasi terutama tentang hubungan sexual selama masa kehamilan trimester III, kemungkinan mereka tidak akan mengalami perubahan pola hubungan sexual selama kehamilan trimester III. Sebaliknya bagi masyarakat pedesaan yang kemungkinan sebagian besar masih menganggap bahwa hubungan sexual selama hamil akan mengganggu janin dalam kandungannya serta dapat menyakiti ibu hamil.

Untuk mengatasi masalah tersebut di atas, maka peran tenaga kesehatan diharapkan dapat membantu memberikan informasi tentang masalah yang dialami pada ibu hamil terutama tentang hubungan sexual selama masa kehamilan trimester III. Suami sebagai pasangan hidup juga memiliki peran penting dalam penyaluran dan pemberi dukungan emosional atau psikologis pada ibu hamil.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang dan beberapa faktor penyebab masalah yang telah di uraikan diatas, maka dapat di susun rumusan masalah sebagai berikut:

1.2.1 Bagaimana peran keluarga terhadap Ibu hamil dalam melakukan hubungan sexual selama kehamilan trimester III ?

1.2.2 Bagaimana tingkat kecemasan Ibu hamil dalam melakukan hubungan sexual selama kehamilan trimester III ?

1.2.3 Adakah hubungan antara peran keluarga dengan tingkat kecemasan Ibu hamil dalam melakukan hubungan sexual selama kehamilan trimerter III di Desa Sendang Agung Kecamatan Paciran Kabupaten .................. ?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui hubungan antara peran keluarga dan tingkat kecemasan Ibu hamil untuk melakukan hubungan sexual selama kehamilan trimester III di Desa Sendang Agung Kecamatan Paciran Kabupaten ...................

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi peran keluarga terhadap Ibu hamil trimester III yang mengalami kecemasan pada saat hubungan sexual.

2. Mengidentifikasi tingkat kecemasan Ibu hamil dalam melakukan hubungan seksual selama kehamilan trimester III.

3. Menganalisa hubungan peran keluarga dengan tingkat kecemasan Ibu hamil dalam melakukan hubungan sexual selama kehamilan trimester III.

1.4 Manfaat Penelitian

1). Praktis

(1). Bagi Profesi Kesehatan

Di harapkan hasil penelitian ini bisa memberikan masukan bagi profesi dalam memberikan informasi pada Ibu hamil, terutama yang mempunyai masalah tentang hubungan sexual selama kehamilan trimester III.

(2) Bagi Institusi Pelayan Kesehatan

Hasil penelitian ini di harapkan dapat memberi masukan dalam perencanaan asuhan kebidanan ibu hamil tentang kecemasan untuk melakukan hubungan sexual selama kehamilan trimester III dan cara penanganannya.

(3).Bagi Tempat Penelitian

Sebagai bahan masukan bagi penanggung jawab terkait termasuk tenaga kesehatan yang ada di dalamnya dalam memberikan informasi pada Ibu hamil, terutama tentang hubungan sexual selama kehamilan trimester III.

2). Teoritis

Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi serta dapat menambah sumber kepustakaan penelitian selanjutnya terkait dengan perilaku hubungan sexual.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini akan disajikan beberapa konsep dasar yang berkaitan dengan penelitian antara lain : 1).Konsep Peran Keluarga, 2).Konsep Kecemasan, 3).Kehamilan Trimester III, 4).Konsep Sexual, 5).Kerangka konsep, 6). Hipotesis.

2.1 Konsep Keluarga

2.1.1 Pengertian

Keluarga adalah unit sosial terkecil yang bersifat universal, artinya terdapat pada setiap masyarakat di dunia atau suatu sistem sosial yang terbentuk dalam sistem sosial yang lebih besar. (Syamsul Yusuf, 2000:36).

Keluarga adalah unit terkecil masyarakat yang terdiri atas dua orang tua atau lebih ada ikatan perkawinan dan bertalian darah, hidup satu rumah tangga di bawah asuhan seorang kepala rumah tangga, berinteraksi diantara sesama anggota keluarga dan setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing, menciptakan mempertahankan suatu budaya (Nasrul Efendi,1998:33).

8

Keluarga didefinsikan dengan beberapa cara pandang. Keluarga dapat dipandang sebagai tempat pemenuhan kebutuhan biologis bagi para anggotanya. Cara pandang dari sudut psikologis anggota keluarga. Secara ekonomi keluarga dianggap sebagai unit yang produktif dalam menyediakan materi bagi anggotanya dan secara sosial adalah unit yang bereaksi terhadap lingkungan lebih luas (Yupi Supartini,2004:21).

2.1.2 Ciri Keluarga yang Mempunyai Kekuatan untuk Kesejahteraan Anak

Menurut Yupi Supartini (2004:31), ciri keluarga adalah sebagai berikut: (1). Komitmen yang kuat untuk kesejahteraan anggota keluarga, (2). Selalu memberi penghargaan dan dorongan terhadap anggota keluarga, (3). Ada upaya untuk meluangkan waktu bersama, (4). Komunikasi dan interaksi yang positif antar anggota keluarga, (5). Kejelasan aturan, nilai dan keyakinan, (6). Strategi koping yang positif, (7). Selalu berfikir positif terhadap perilaku anggota keluarga, (8). Kemampuan memecahkan masalah secara positif, (9). Fleksibel dan mudah beradaptasi dalam menjalani peran untuk memenuhi kebutuhan, (10). Selalu ada keseimbangan antara kepentingan pekerjaan diri kepentingan anggota keluarga.

2.1.3 Peran Keluarga

Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun non formal, sedangkan posisi adalah keberadaan seseorang dalam sistem sosial. (Yupi Supartini. 2004:28)

Menurut Friedman(1998:290) peran keluarga adalah sebagai berikut:

1) Peran Formal

Peran ini berkaitan dengan setiap posisi formal keluarga, antara lain sejumlah perilaku yang lebih bersifat homogen. Keluarga membagi peran secara merata kepada para anggota keluarga seperti cara masyarakat membagi perannya, menurut bagaimana pentingnya pelaksanaan peran bagi berfungsinya suatu sistem.

2) Peran Informal

Peran informal bersifat ancaman yang tidak tampak dan memainkan hanya untuk menjaga keseimbangan dalam keluarga. Macam peran informal adalah sebagai berikut:

(a) Pendorong

Sebagai suami sebaiknya menciptakan suasana yang romantis untuk mendorong istri tidak takut dan mau melakukan hubungan sexual pada saat hamil Trimester III.

(b) Inisiator

Seharusnya suami mengambil peran untuk mulai upaya melakukan hubungan sexual supaya istri mau di ajak hubungan sexual yang baik.

(c) Dominator

Kalau ada perbedaan pendapat tentang boleh dan tidaknya hubungan sexual dalam kondisi hamil adalah pasangan suami istri.

(d) Sahabat

Setiap ada persoalan yang menyangkut hubungan sexual, suami, istri dan orang tua perlu saling memberi nasehat yang baik. Keberadaan orang tua tidak dapat membantu bila ada masalah yang berhubungan dengan hubungan sexual pada saat hamil.

(e) Koordinator

Sebagai orang tidak perlu mengarahkan setiap saat anaknya akan melakukan hubungan sexual.

2.1.4 Fungsi Keluarga

Menurut Syamsul Yusuf(2000:38) ada beberapa fungsi yang dapat dijalankan di keluarga yaitu sebagai berikut:

1. Fungsi Secara Psikologi

a. Pemberi rasa aman bagi anak dan anggota keluarga lainnya

b. Sumber pemenuhan kebutuhan baik fisik maupun psikis

c. Sumber kasih sayang dan penerimaan

d. Model pola perilaku yang tepat bagi anak untuk belajar menjadi anggota masyarakat yang baik

e. Pemberi bimbingan bagi pengembangan perilaku yang secara sosial dianggap tepat

f. Pembentuk anak dalam memecahkan masalah yang dihadapinya dalam rangka menyesuaikan dirinya terhadap kehidupan

g. Pemberi bimbingan dalam belajar keterampilan motorik verbal dan sosial yang dibutuhkan untuk penyesuaian diri

h. Stimulator bagi pengembangan kemampuan anak untuk mencapai prestasi baik di sekolah maupun di masyarakat

i. Pembimbing dalam mengemhangkan aspirasi

j. Sumber persahabatan atau teman bermain bagi anak sampai cukup usia untuk mendapatkan teman di luar rumah.

2. Fungsi Secara Sosiologis

a. Fungsi Biologi

Keluarga dipandang sebagai pranata sosial yang memberikan legalitas kesempatan dan kemudahan bagi anggota keluarganya untuk memenuhi kebutuhan dasar biologisnya. Meliputi sandang, pangan papan, hubungan seksual suami istri, dan reproduksi.

b. Fungsi Ekonomis

Keluarga atau dalam hal ini ayah mempunyai kewajiban untuk menafkai anggota keluarga.

c. Fungsi Pendidikan atau Edukatif

Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak.

d. Fungsi Sosialisasi

Lingkungan keluarga merupakan faktor penentu yang sangat mempengaruhi kualitas generasi yang akan datang.

e. Fungsi Perlindungan atau Protektif

Keluarga berfungsi sebagai pelindung bagi para anggota keluarganya dan gangguan, ancaman dan kondisi yang menimbul-kan ketidaknyamanan.

f. Fungsi Rekreatif

Untuk melaksanakan fungsi ini, keluarga harus diciptakan sebagai lingkungan yang memberikan kenyamanan, keceriaan, kehanga-tan dan penuh semangat bagi anggotanya.

g. Fungsi Agama atau Religius

Berfungsi sebagai penanaman nilai-nilai agama kepada anak agar mereka memiliki pedoman hidup yang benar.

2.1.5 Tugas Keluarga

Menurut Nasrul Efendy(1998:37) pada umumnya tugas keluarga ada delapan tugas pokok sebagai berikut:

1. Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya

2. Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga

3. Pembagian tugas masing-masing anggota

4. Sosialisasi antar anggota keluarga

5. Pengaturan jumlah anggota keluarga

6. Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga

7. Penempatan anggota dalam masyarakat yang lebih luas

8. Membangkitkan dorongan dan semangat anggotanya

2.2 Konsep Kecemasan

2.2.1 Pengertian

Kecemasan adalah perasaan yang tergeneralisasikan atas kecemasan dan kekhawatiran yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk dan segera terjadi. (Jeffery S.,2003:163)

2.2.2 Penyebab Kecemasan

1. Faktor Predisposisi

Berbagai teori dikembangkan untuk menjelaskan tentang kecemasan (Stuart & Sudden,1998:177)

a. Teori Psikoanalitik

Freud memandang bahwa kecemasan timbul secara otomatis apabila kita menerima stimulus yang berlebihan yang mempunyai kemampuan kita untuk menanganinya dan dapat berasal dari luar dan dalam.

b. Teori Interpersonal

Menurut Sullivan kecemasan timbul akibat kecemasan akan ketidakmampuan untuk berhubungan secara interpersonal serta akibat penolakan.

c. Teori Perilaku

Aliran behaviour memandang bahwa kecemasan yang dihasilkan oleh frustasi yang mempengaruhi kemanipuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

d. Teori Kekeluargaan

Kecemasan selalu ada pada tiap-tiap kekeluargaan dan merupakan hal yang umum serta sifatnya heterogen.

e. Teori Biologi

Dalam otak terdapat reseptor spesifik terhadap benzodiasepines dapat mengatur timbulnya kecemasan disertai dengan gangguan fisik.

2. Faktor Presipitasi

a. Ancaman terhadap integritas fisik

Sumber eksternal: infeksi virus, bakteri, polusi lingkungan, ancaman keselamatan dan injury. Sumber internal: kegagalan mekanisme fisik seseorang seperti jantung, sistem imun, perubahan biologis normal seperti kehamilan.

b. Ancaman terhadap self sistem

Sumber ekcternal: kehilangan pasangan, orangtua, teman dekat, kematian, perceraian, perubahan dalam status pekerja, pindah rumah, dan tekanan sosial. Sumber internal: kesulitan dalam hubungan interpersonal dalam rumah, di tempat kerja, di masyarakat, menerima peran baru sebagai orang tua murid.

2.2.3 Rentang Respon Kecemasan

adaptive responses maladaptive responses




antiapation mild moderate severe panic

Gambar 2.1 Rentang Respon Kecemasan Menurut Stuart & Sudden 1998

1. Kecemasan ringan atau Mild anxiety

Adalah suatu kecemasan yang masih ringan. Pada tingkat ini sebenarnya merupakan hal yang sehat karena merupakan tanda bahwa antara lain keadaan jiwa dan tubuh manusia agar dapat mempertahankan diri dan lingkungan yang serba berubah. Kecemasan dapat sangat bersifat konstruktif bila dilakukan dengan secara sehat dan normal.

2. Kecemasan sedang atau moderate

Adalah suatu kemampuan yang menyempit, ada gangguan atau hambatan dalam perbaikan dirinya, terjadi peningkatan respirasi dan denyut nadi.

3. Kecemasan berat atau Severe

Adalah adanya perasaan-perasaan canggung terhadap waktu atau perhatian, persepsi menurun, tidak konsentrasi, kesulitan komunikasi, hyperventilasi, tachicardi, mual dan sulit kepala.

4. Panik atau Panic

Individu sangat kacau sehingga berbahaya bagi diri maupun orang lain. Tidak mampu bertindak, berkomunikasi dan berfungsi secara aktif.

2.2.4 Ciri-ciri Kecemasan

Menurut Jeffery S., (2003:164) beberapa ciri dan kecemasan adalah

1. Ciri Fisik

a. Kegelisahan, kegugupan

b. Tangan atau anggota tubuh yang bergetar atau gemetar

c. Banyak berkeringat

d. Mulut atau kerongkongan terasa kering, sulit menelan

e. berdebar keras berdetak kencang

f. Terdapat gangguan sakit perut atau mual

g. Wajah terasa memerah dan merasa sensitif atau mudah marah

2. Ciri-ciri Behavioral

a. Perilaku menghibur

b. Perilaku melekat dan dependent

c. Perilaku terguncang

3. Ciri-ciri Kognitif

a. Khawatir tentang sesuatu

b. Kecemasan akan kehilangan kontrol

c. Berfikir bahwa semuanya tidak lagi bisa dikendalikan

d. Pikiran terasa bercampur aduk atau kebingungan

e. Sulit berkonsentrasi

2.2.5 Hamilton Anxiety Rating Sacle atau Skala Kecemasan

Untuk mengetahui tingkat kecemasan ibu hamil dalam melakukan hubungan sexual selama kehamilan trimester III, maka digunakan skala Hars sebagai berikut:

1. Aspek Psikologis

a. Perasaan cemas: cemas, firasat buruk, cemas, mudah tersinggung.

b. Ketegangan: merasa cemas, letih, mudah terkejut, mudah menangis, gemetar, gelisah, tidak dapat istirahat.

c. Kecemasan: pandangan gelap, cemas ditinggal sendiri, cemas pada orang asing, cemas pada binatang besar, cemas pada kerumunan orang banyak, cemas keramaian lalu lintas.

d. Gangguan kecerdasan: sukar berkonsentrasi, daya ingat buruk.

e. Perasaan depresi: hilang minat, sedih, perasaan berubah setiap hari.

2. Aspek Fisiologis

a. Gangguan tidur: sukar tidur, terbangun pada malam hari, mimpi buruk, mimpi menakutkan, tidur pulas, bila terbangun badan lemas, sering mimpi.

b. Gejala somatik atau otot-otot: nyeri otot, kaku, kedutan, gigi gemerutuk, suara tidak stabil.

c. Gejala sensorik: penglihatan kabur, gelisah, muka merab, merasa lemas.

d. Gejala Kardiovaskuler: tachycardi, nyeri dada, denyut nadi meningkat, merasa lemah, denyut jantung berhenti sejenak.

e. Pernafasan: merasa tertekan di dada, perasaan tercekik, sering menarik nafas pendek.

f. Ganguan Gastrointestinal: sulit menelan, gangguan penceranaan, nyeri lambung, mual muntah, pernafasan perut.

g. Gangguan Urogenital: tidak dapat menahan kencing, frigiditas, amenorrhoe.

h. Gangguan Otonom: Mulut kering, muka merah, berkeringat, bulu roma berdiri.

i. Perilaku sesaat: gelisah, tidak tenang, jari gemetar, muka tegang, tonus otot meningkat, mengerutkan dahi, nafas pendek dan cepat.

2.3 Konsep Dasar Kehamilan

2.3.1 Pengertian

Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya kehamilan normal adalah 280 han (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir (Sarwono Prawirohardjo,2001:56).

2.3.2 Pembagian Kehamilan Berdasarkan Usia Kehamilan

1. Trimester I

Yaitu mulai dan konsepsi sampai 3 bulan.

2. Trimester II

Yaitu mulai bulan keempat sampai dengan 6 bulan.

3. Trimester III

Yaitu mulai bulan ketujuh sampai 9 bulan.

2.3.3 Pemeriksaan Kehamilan

Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan, yaitu:

1. 1 kali pada trimester I

2. 1 kali pada trimester II

3. 2 kali pada trimester III

Sedangkan standart minimal asuhan antenatal meliputi 7 T, ynitu

1. Timbang berat badan

2. Tekanan darah

3. Tinggi fundus uteri

4. TT (Tetanus Toksoid) lengkap

5. Tablet zat besi minimum 90 tablet selama kehamilan

6. Tes penyakit menular seksual

7. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan.

2.4 Konsep Seksual

2.4.1 Pengertian Seksual

Menurut Hanifa Wiknjosastro(1999:589) istilah seks dan seksualitas, yang belum ada sinonimnya dalam bahasa Indonesia, mempunyai arti yang jauh lebih luas dan istilah coitus dalam anti kata sempit yaitu bersatunya tubuh antara wanita dan pria. Pada manusia seksualitas dapat dipandang sebagai pencetusan dan hubungan antara individu, dimana daya tank rohaniah dan badaniah atau psikofisik menjadi dasar kehidupan bersama antara dua insan manusia, sedangkan menurut Ahmad Ramali (2000:231) seksual adalah bertalian dengan kelamin.

Selain itu menurut Carpenito (2001:374) kesehatan seksual adalah integrasi dari aspek somatik, emosional, intelektual dan sosial dalam kehidupan seksual dalam cara yang memperkaya dan meningkatkan komunikasi kepribadian dan cinta.

2.4.2 Hubungan Seksual Yang Normal

Menurut Close, Sylvia(1998:2) bahwa hubungan seksual yang normal mengandung pengertian sebagai berikut:

a. Hubungan tersebut tidak menimbulkan dampak yang merugikan, baik bagi diri sendiri maupun bagi patnernya, juga tidak mengakibatkan konflik-konflik psikis pada kedua belah pihak.

b. Ada bentuk relasi seks yang bertanggung jawab yaitu kedua belah pihak menyadari konsekuensinya, serta berani memikul tanggung jawab dan perbuatan mereka, baik yang mengenai diri sendiri maupun patnernya.

c. Juga menyadari bahwa mereka harus melakukan relasi seks dalam batasbatas norma etis atau susila, norma masyarakat dan norma agama.

d. Oleh kedua ciri “normal dan tanggung jawab” itu maka diwajibkan manusia melakukan seks dalam ikatan perkawinan yang sah.

2.4.3 Fase Selama Hubungan Seksual

Menurut Cherry M.D.(1999:25), siklus reaksi seksual dapat dibagi dalam empat tahap, yaitu: tahap perangsangan, tahap stabil atau plateau, tahap orgasme dan tahap resolusi.

Sedangkan menurut Manuaba I.B.G. (1999:23), fenomena dasar mata rantai seksual pria dan wanita dapat dijabarkan seperti di bawah ini:

1. Masa Rangsangan atau Excitement Phase

Pada saat ini sebagian sudah melakukan penetrasi penis pada vagina yang sudah siap menerimanya. Pada wanita, masa rangsangan memerlukan waktu paling panjang dan memerlukan kesabaran suami atau pria bila menginginkan orgasme tercapai secara bersamaan.

2. Masa Dataran Tinggi atau Plateau Phase

Menjelang atau pada masa dataran tinggi sebagian besar hubungan intim telah dilakukan dan masa dataran tinggi segera akan diikuti orgasme dan selanjutnya masa peredaan. Pada puncak masa dataran tinggi terdapat tegangan otot maksimal.

3. Masa Orgasme atau Orgasmic Phase

Setelah tegangan otot maksimal yang diikuti oleh nadi dan pernapasan meningkat, terjadi orgasme beberapa detik. Pencapaian orgasme pria dan wanita berbeda sehinga diharapkan mendapatkan kepuasan seks bersamaan untuk meningkatkan keharmonisan keluarga.

4. Masa Peredaan atau Resolution Phase

Setelah orgasme beberapa detik diikuti masa peredaan dimana penis berangsur-angsur mengecil dan kembali pada ukuran semula dan testis ikut serta turun ke tempat semula. Untuk melakukan aktivitas seks berikutnya diperlukan waktu.

2.4.4 Reaksi Dan Organ Tertentu Pada Waktu Seksual

Menurut Rono Sulistyo(1987:29). Reaksi dan organ tertentu pada waktu seksual oral adalah sebagai berikut:

1. Clitoris

Pada excitement phase: glans clitoris membesar dan dalam ereksi

Pada plateau phase: clitoris tertarik ke dalam

Pada organic phase: tidak didapatkan reaksi yang khusus.

2. Vagina

Excitement Phase:

Reaksi pertama dan suatu rangsangan seks ialah diproduksinya “vaginal lubrication” melalui suatu “sweating phenomenon”. Terjadi dalam 10-30 detik. Setelah suatu rangsangan sex yang efektif.

Cervix perlahan-lahan naik ke atas, rugae vagina mendatar, keadaan ini disebut “ballooning” dan vagina.

Terjadi vaso congesti dan 1/3 vagina bagian distal yang disebut juga orgasmic platform, lubrication berkurang.

Orgasmic phase:

Kontraksi dan 1/3 vagina bagian distal dengan interval 0,8 detik terjadi 3- 5 kontraksi, maximal dapat mencapai 10-15 kontraksi.

Resolution phase

Perubahan retroprogresif dan saluran vagina, perlahan-lahan 2/3 vagina bagian proximal mengkerut sampai kembali pada keadaan yang normal. Berlangsung dalam waktu 10-15 menit.

3. Penis

Excitement phase

Suatu rangsangan seksual yang efektif mengakibatkan ereksi dan penis karena adanya bendungan darah dalam jaringan erektif. Urethra dalam penis memanjang dan melebar sampai 2x, juga meatus erethrae.

Plateau Phase

Tidak banyak perubahan lagi. Corona lebih tegang. Basis dan urethra melebar sampai 3x, pelebaran ini ialah tanda akan datangnya orgasme.

Orgasmic Phase

Terjadi kontraksi yang regulair dan urethra, otot-otot pada basis penis dan sekitar anus. Interval kontraksi 0,8 detik untuk 3-4 respone yang pertama, kemudian interval ini lebih panjang.

Resolution phase:

Detamescene terjadi dalam 2 stadium. Pertama hilangnya ereksi, penis menjadi hanya 50,00% lebih besar daripada keadaan tidak ereksi.

Stadium kedua berlangsung lebih lama, apalagi bila masih terdapat sisa rangsangan seks.

4. Cardiorespiratoiy System

Excitement phase:

Meningkatnya nadi dan tekanan darah paralel dengan seksual tension yang ditimbulkan. Tidak ada perubahan dan frekuensi pernafasan.

Plateau phase:

Nadi dapat naik sampai 110-175 x!menit. Juga tekanan sistolik dapat naik 20-80 mmHg dan diastolik 10-40 mmHg. Terjadi hyperventilasi pada akhir plateau phase.

Orgasmic phase:

Masih terjadi sedikit kenaikan dan nadi, demikian juga tekanan darah, respirasi dapat mencapai 40 x!menit.

Perubahan respirasi sesuai dengan perubahan dan sexual tension. Bila orgasme tidak hebat dan singkat sekali (pada wanita), maka kadang-kadang tak tampak perubahan dan frekuensi pernafasan.

5. Orgasme

Orgasme ialah suatu respone yang menyenangkan, dengan berkuranngnya ketegangan, serta merupakan puncak dan kepuasan fisik dan emosional dalam aktivitas seksual (Rono Sulistyo, 1987:43).

Menurut Nash, Barbara dan Patricia Gilbert (2006:234) pengertian orgasme adalah klimaks dan ketegangan seksual yang pada laki-laki berbarengan dengan ejakulasi dan ditandai dengan serangkaian kontraksi otot, pada perempuan ada kontraksi-kontraksi yang tidak teratur dan dinding-dinding vagina.

Kebanyakan wanita tidak menyadari adanya kontraksi uterin yang timbul akibat orgasme. Ada beberapa yang sedikit menyadari adanya kekejangan di perut bagian bawah, tetapi ada juga yang sangat merasakan kekejangan tersebut dan karenanya menghindari orgasme pada saat hamil (Close, Sylvia, 1998:3). Bersenggama, penetrasi serta orgasme merupakan hal yang benar-benar aman sepanjang ibu hamil dalam kondisi kesehatan baik, mengingat janin dilengkapi dengan pelindung yang berupa cairan amniotik atau air ketuban (Suririnah, http://www.infoibu.com).

Sedangkan menurut Jimenez (2001:44), kontraksi rahim yang terjadi setelah orgasme adalah hal normal. ini biasanya di sebut Braxton Hicks, atau kontraksi latihan, yang tidak akan menyebabkan dimulainya persalinan kecuali tepat saatnya sang bayi lahir, atau jika ibu hamil mengalami persalinan prematur.

6. Seks Dalam Kehamilan

Masalah hubungan seksual merupakan kebutuhan biologis yang tidak dapat ditawar, tetapi perlu diperhitungkan bagi ibu yang hamil. Kehamilan bukan merupakan halangan untuk melakukan hubungan seksual. Kadang-kadang pada beberapa orang keinginan seks makin meningkat (Manuaba, 1.B.G., 1999:96).

a. Waktu Dan Keadaan Yang Aman Untuk Melakukan Hubungan Seksual Selama Masa Kehamilan

Menurut Close, Sylvia (1998:2) disebutkan bahwa hubungan seksual dapat dilakukan dengan aman sejak terbentuknya janin sampai dengan mulainya saat persalinan, asalkan:

1. Kehamilan berjalan normal dan tidak ada kontra indikasi yang membahayakan seperti perdarahan vagina atau “spotting”, dan atau kejang perut yang abnormal.

2. Pasangan wanita belum pernah mengalami keguguran atau kelahiran prematur dan yang sama pentingnya adalah

3. Keduanya menginginkannya.

Sedangkan menurut Farrer, Helen(1999:90), jika seorang wanita hamil memiliki riwayat abortus spontan atau persalinan prematur, maka senggama tidak boleh dilakukan selama 2-3 bulan pertama kehamilannya dan juga dalam bulan terakhir. Kalau tidak terdapat riwayat seperti di atas, aktivitas seksual dapat dilanjutkan menurut keinginan pasangan suami istri tersebut.

Selain itu menurut Suririnah (http://www.infoibu.com) seorang wanita sehat dengan kehamilan normal bisa terus berhubungan seksual sampai usia kandungannya mencapai sembilan bulan tanpa perlu cemas melukai diri sendiri ataupun janinnya.

b. Batasan atau Larangan Hubungan Seksual Selama Masa Kehamilan

Menurut Surininah (http://www.infoibu.com) menjelaskan batasan serta larangan selama periode tertentu, terutama jika ibu mengalami keguguran, kelahiran dini, infeksi dan masing-masing pasangan, kehadiran janin lipat ganda, perdarahan selama hubungan tubuh, terasa sakit selama hubungan badan dan pecahnya air ketuban atau kebocoran cairan dan vagina.

Manuaba, I.B.G.,(1999:97) mengungkapkan bahwa pada hamil muda hubungan seksual sedapat mungkin dihindari bila terdapat keguguran berulang atau mengancam, kehamilan dengan tanda infeksi, kehamilan dengan perdarahan, kehamilan dengan mengeluarkan air atau kehamilan dengan perlukaan di sekitar alat kelamin bagian luar.

c. Posisi Yang Dianjurkan

Wanita dapat merasakan ketidaknyamanan dan merasa kurang nikmat bila perutnya tertekan. Keadaan ini dapat disalah artikan sebagai rasa sakit pada saat hubungan seksual. Untuk menghindarinya dapat dilakukan perubahan posisi. Dapat juga dilakukan dengan posisi yang sama apabila pria menopang berat badannya dengan tangan. Biasanya hal ini dilakukan pada wanita yang mengandung bayi kembar karena Ia hanya merasa enak berbaring terlentang (Close, Sylvia, 1998:19).

Beberapa posisi hubungan seks terbaik selama kehamilan menurut Suririnah (2007) adalah:

1) Posisi wanita diatas. Posisi ini yang paling nyaman untuk banyak ibu hamil terutama karena wanita hamil dapat mengontrol kedalaman penetrasi.

2) Posisi duduk. Posisi ini biasanya pada kehamilan pertengahan atau lanjut dimana tidak memerlukan banyak gerakan. Pria duduk dan wanita duduk diatasnya berhadapan atau membelakangi yang pria bila perut sudah sangat besar. Posisi ini juga memungkinkan wanita untuk mengontrol kedalaman penetrasi

3) Posisi laki-laki diatas tetapi berbaring hanya separuh tubuh.

4) Posisi berlutut atau berdiri

Yang paling penting dari semua posisi seks selama kehamilan ini adalah jangan meletakkan berat badan ke perut ibu hamil selama hubungan seksual atau batasilah tekanan di perut ibu hamil.

2.5 Kerangka Konsep

Konsep adalah abstruksi dari landasan teori agar dapat dikemukakan dan membentuk suatu teori yang menjelaskan suatu variabel (baik variabel yang di teliti maupun yang tidak diteliti). (Nursalam,2003).


Keterangan :

: Diteliti

: Tidak diteliti

Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian Hubungan Peran Keluarga dengan Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Dalam Melakukan Hubungan Sexual Selama Kehamilan Trimester III di Desa Sendang Agung Kecamatan Paciran Kabupaten .................. Tahun 2009.

Peran petugas kesehatan, pendidikan, usia, sosial ekonomi berpengaruh terhadap pengetahuan disamping sosial budaya dan peran keluarga sehingga ibu hamil trimester III mengalami kecemasan atau tidak.

2.9. Hipotesis

H1: Diterima, terdapat hubungan antara peran keluarga dengan tingkat kecemasan ibu hamil dalam melakukan hubungan sexual selama kehamilan trimestre III di Desa Sendang Agung Kecamatan Paciran Kabupaten ...................

BAB 3

METODE PENELITIAN

Pada bab ini akan disajikan tentang: 1) Desain Penelitian, 2) Waktu Dan Lokasi Penelitian, 3) Kerangka Kerja, 4) Sampling Desain, 5) Identifikasi Variabel, 6) Definisi Operasional, 7) Pengumpulan Data Dan Analisa Data, 8) Masalah Etika Dalam Penelitian Dan 9) Keterbatasan.

3.1 Desain Penelitian

Desain penelitian adalah keseluruhan dari perencanaan untuk menjawab penelitian dan mengantisipasi beberapa kesulitan yang mungkin timbul selama proses penelitian (Nursalam, 2003:136).

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian analitik, yaitu penelitian yang mencoba mencari hubungan antar variabel. Peneliti dapat mencari, menjelaskan suatu hubungan, memperkirakan, menguji berdasarkan teori yang ada (Nursalam, 2003:84). Metode penelitian ini secara crossectinal dimana peneliti menekankan pada waktu pengukuran atau observasi data variabel independent dan dependent hanya satu kali, pada satu saat. (Nursalam, 2003:85).

Penelitian ini menghubungkan peran keluarga terhadap tingkat kecemasan ibu dalam hubungan sexual selama kehamilan trimester III.

3.2 Waktu dan Lokasi Penetitian

3.2.1 Lokasi Penelitihan

32

Penelitian mengambil di Desa Sendang Agung Kecamatan Paciran-...................

3.2.2 Waktu Penelitian

Pada tanggal 17 sampai dengan 23 Maret 2009 sesuai dengan rencana kegiatan terlampir.

3.3 Kerangka Kerja

Kerangka kerja merupakan bagan kerja terhadap kegiatan penelitian yang akan dilakukan meliputi siapa saja yang akan diteliti atau subyek penelitian, variabel yang akan diteliti dan variabel yang mempengaruhi dalam penelitian (A. Aziz Alimul H., 2003:34). Kerangka kerja dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:









Penarikan Kesimpulan

Gambar. 3.1 Kerangka Kerja Penelitian Tentang Hubungan Peran Keluarga dengan Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Untuk Melakukan Hubungan Sexual Selama Kehamilan Trimester III. di Desa Sendang Agung Kecamatan Paciran kab. Lamongan tahun 2009.


3.4 Sampling Desain

3.4.1 Populasi

Populasi adalah setiap subyek atau misalnya manusia yang memenuhi kriteria yang ditetapkan (Nursalam, 2003:94). Pada penelitian ini populasinya adalah seluruh ibu hamil trimester III di desa Sendang Agung Kecamatan Paciran Kabupaten .................. Bulan Januari – Maret 2009, dengan jumlah 34 orang.

3.4.2 Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang akan diteliti (Suharsimi Arikunto, 2006:131). Pada penelitian ini sampel yang diambil adalah sebagian ibu hamil trimester III yang ada di Desa Sendang Agung Kecamatan Paciran Kabupaten .................. yang memenuhi kriteria sebagai berikut:

1. Kriteria Sampel

1) Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi adalah karakteristik subyek penelitian dan suatu populasi target yang terjangkau yang akan diteliti (Nursalam, 2003:96).

Pada penelitian ini sampel yang layak diteliti adalah:

1) Ibu hamil Trimestre III primigravida

2) Bersedia untuk diteliti dengan menandatangani Informed Consent.

2) Kriteria Eksklusi

Kriteria Eksklusi adalah mengeluarkan subyek yang memenuhi kriteria inklusi dan studi karena berbagai sebab (Nursalam, 2003:96), kriteria eksklusi pada penelitian ini yaitu: Ibu hamil yang mengalami penyakit yang menyertai kehamilan.

2. Besar Sampel

N . zα2 . p . q

d2 (N-1) + α2 . p . q

Sampel dihitung dengan menggunakan rumus sampel maximal dengan rumus (Nursalam, 2003:96). Untuk menghitung besar sampel dengan rumus:

n =

Keterangan :

n : jumlah sampel

N : jumlah unit sampel

z : harga kurva normal yang tergabung dengan harga (α2)

p : proporsi kelompok

q : 1-p

d : tingkat masalah yang diteliti

3.4.3 Tehnik Sampling

Sampling adalah proses menyeleksi porsi dan populasi untuk mewakili populasi (Nursalam, 2003:97). Pada penelitian ini sampling di ambil dengan cara non probability sampling yaitu purposive sampling, adalah suatu tehnik penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki peneliti yang disesuaikan dengan kriteria inklusi yang telah dirancang oleh peneliti sehingga penelitian sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya (Nursalam, 2003:98).

3.5 Identifikasi Variabel

Variabel adalah suatu sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep pengertian tertentu (Soekidjo Notoatmodjo, 2002:70).

3.5.1 Variabel independen

Variabel independen atau variabel bebas adalah merupakan variabel yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependent atau terikat (Aziz Alimul H, 2007:78). Variabel independent dalam penelitian ini adalah peran keluarga terhadap ibu hamil dalam melakukan hubungan sexual selama kehamilan trimester III.

3.5.2 Variabel Dependen

Variabel dependent merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena variabel bebas. Variabel ini tergantung dari variabel bebas terhadap perubahan. (Aziz Alimul H, 2007:78). Variabel dependent dalam penelitian ini adalah tingkat kecemasan ibu hamil dalam melakukan hubungan sexual selama kehamilan trimester III.

3.6 Definisi Operasional

Definisi Operasional adalah definisi yang berdasarkan karakteristik yang diamati dan suatu yang didefinisikan tersebut (Nursalam, 2003:107). Karakteristik yang diamati memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu obyek atau fenomena (Nursalam, 2003:49).

Table 3.1 : Definisi Operasional Peran Keluarga Dan Tingkat Kecemasan hubungan Ibu Hamil dalam Melakukan Hubungan Sexual Selama Kehamilan Trimester III di Desa Sendang Agung Kecamatan Paciran Kabupaten .................. Tahun 2009.

Variabel

Definisi Operasional

Indikator

Alat Ukur

Skala

Skor

1

2

3

4

5

6

Variabel independen peran keluarga

Kemampuan keluarga dalam memberikan informasi pada ibu hamil untuk melakukan hubungan sexual pada kehamilan trimester III.

Jawaban tepat tentang:

1. Peran keluarga sebagai pendorong

2. Peran keluarga sebagai inisiator

3. Peran keluarga sebagai dominator

4. Peran keluarga sebagai sahabat

5. Peran keluarga sebagai koordinator

Kuesioner

No. 1

No. 2

No. 3

No. 4-5

No. 6

Ordinal

0: bila jawaban salah

1: bila jawaban benar

Peran keluarga

1. 76-100% baik

2. 56-75% cukup

3. ≤ 55 % Kurang

(Suharsimi Arikunto, 1998: 246)

1

2

3

4

5

6

Variabel Dependen tingkat kecemasan ibu hamil

Merupakan perasaan yang sudah pasti terjadi pada ibu hamil untuk melakukan hubungan sexual pada kehamilan trimester III

Perubahan yang terjadi :

1. Perasaan cemas

2. Ketegangan

3. Kecemasan

4. Gangguan kecerdasan

5. Perasaan depresi

6. Gangguan tidur

7. Gejala somatic (otot-otot)

8. Gejala sensorik

9. Gejala kardiovaskuler

10. Gejala pernafasan

11. Gejala gastrointestinal

12. Gejala urogenital

13. Gangguan otonom

14. Perilaku sesaat

Lembar observasi skala Hars 7-20

Ordinal

≤ 6 tidak cemas

6-14 cemas ringan

15-27 cemas sedang

> 27 cemas berat

(Nursalam. 2003:183)

3.7 Pengumpulan Data dan Analisis Data

3.7.1 Pengumpulan Data

1. Proses Pengumpulan Data

Setelah mendapat ijin dari pihak yang terkait diantaranya adalah Ketua Stikes Muhammadiyah .................., Kepala Desa dan Bidan Desa Sendang Agung Kecamatan Paciran Kabupaten .................., peneliti melakukan pendekatan terhadap responden yang memenuhi kriteria inklusi, untuk mendapatkan persetujuan responden menjadi subyek penelitian.

2. Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen adalah suatu alat yang digunakan untuk mengatur apa yang seharusnya diukur (Nursalarn,2003:108). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner merupakan daftar pertanyaan yang sudah tersusun dengan baik, sudah matang, dimana interview dalam hal ini adalah wawancara tinggal memberikan jawahan atau dengan memberi tanda tertentu (Soekidjo Notoatmodjo, 2002:116)

3.7.2 Analisis Data

Setelah data terkumpul dilakukan penyutingan data dan koding. Tekhnik pemberian skor pada kuesioner menggunakan skala ordinal. Untuk variahel peran keluarga dengan jumlah soal 6 sub variabel dengan alternativ jawaban yang benar dan salah, apabila pertanyaan positif jawaban ya, maka ia memperoleh nilai dan apabila jawaban tidak 0, apabila pertanyaan negatif jawaban ya = 0 dan tidak = 1, peran keluarga diklarifikasikan dengan nilai 76-100% peran keluarga baik, 56-75% peran keluarga cukup, ≤ 55% peran keluarga kurang.

Sedangkan untuk variabel Dependent, kecemasan yang digunakan adalah lembar observasi kecemasan skala Hars dengan jumlah item pertanyaan dalam ceklist sehanyak 14 sub variabel. Masing-masing variahel mempunvai indikator sendiri-sendiri yang telah ditetapkan oleh skala Hars, dengan jawaban atau nilai 0 = tidak ada gejala kecemasan sama sekali, 1 kecemasan ringan (satu gejala dari pilihan yang ada). 2 = kecemasan sedang (separuh dari gejala yang ada). 4 kecemasan berat (semua gejala ada). Nilai Hars ini diklasifikasikan nilai < 6 termasuk tidak cemas dengan kode (1) nilai 6 - 14 termasuk cemas ringan dengan kode (2) nilai 15 - 27 termasuk kecemasan sedang dengan kode (3) nilai > 27 termasuk cemas berat dengan kode (4).

Dari hasil pengisian kuesioner kemudian dilakukan koding, scoring dan dikelompokkan dalam tabulasi data dalam bentuk analitik yang konfirmasi dalam bentuk prosentase dan narasi. Hasil presentasi kemudian diinterpretasikan dengan modifikasi kesimpulan menurut kriteria Suharsimi Arikunto (2006:245) sebagai berikut:

1. 100% : seluruhnya

2. 76-99% : hampir seluruhnya

3. 51-75% : sebagian besar

4. 50% : setengah atau sebagian

5. 26-49% : hampir sebagian

6. 1 - 25% : sebagian kecil

7. 0% : tidak satupun

Untuk mengetahui adanya hubungan arah serta kuat lemahnya hubungan antara variabel dependen dan variabel independen. Maka analisa dilakukan dengan uji spearman dengan rumus (Aziz Alimul H,2007:126)

rs = 1 -

Keterangan :

rs : Nilai korelasi spearman

d2 : selisih setiap pasangan

n : Jumlah pasangan untuk spearman (5 < n < 30)

menentukan Thitung dengan rumus

student t =

Kemudian diuji dengan taraf signifikan

1. Jika t hitung berada di luar area -t tahel s/d +t tabel maka Ho ditolak yang artinya terdapat hubungan antara peran keluarga dengan tingkai kecemasan remaja putri saat mengalami menarche.

2. Jika -1 tabel < t hitung < + t table maka Ho diterima yang artinya tidak ada hubungan antara variabel dependen dan variabel independen.

3.8 Etika Penelitian

Menurut Nursalam (2003:181), penelitian apapun khususnya yang menggunakan manusia sebagai subyek tidak boleh bertentangan dengan etika, oleh karena itu setiap peneliti yang menggunakan subyek harus mendapatkan persetujuan dari subyek yang diteliti dan institusi tempat penelitian.

3.8.1 Informed Consent atau persetujuan responden

Saat pengambilan sampel terlebih dahulu peneliti meminta izin kepada setiap obyek yang akan diteliti baik secara lisan maupun melalui lembar persetujuan atas kesediannya dijadikan obyek penelitian.

3.8.2 Anonimity atau tanpa nama

Untuk menjaga kerahasiaan identitas obyek peneliti tidak akan mencantumkan nama responden pada lembar pengumpulan data atau kuesioner cukup dengan memberikan nomer kode masing-masing lembar tersebut.

3.8.3 Confidentiality atau kerahasiaan

Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh obyek dijamin oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu saja yang akan disajikan atau dilaporkan sehingga rahasia tetap terjaga.

3.9 Keterbatasan

3.9.1 Keterbatasan instrument/ alat pengumpul data dalam penelitian ini karena hanya menggunakan close ended questions atau kuesioner tertutup, sehingga jawaban dipengaruhi subyektifitas responden.

3.9.2 Teknik sampling menggunakan kondekutif sehingga tiap keluarga ibu hamil Trimester III tidak mempunyai kesempatan yang sama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar